Ketua dan Presiden SoftBank, Masayoshi Son. (Asahi Shimbun)
TOKYO, ARAHKITA.COM - SoftBank Group berencana menghadirkan satu miliar agen kecerdasan buatan (AI) yang akan menggantikan sebagian besar peran manusia pada tahun 2026.
Rencana ambisius ini diumumkan oleh Ketua dan Presiden SoftBank, Masayoshi Son, dalam acara perusahaan di Tokyo pada 16 Juli.
Menurut Son, agen AI yang dimaksud tidak hanya mampu menjawab pertanyaan dan memberikan saran, tetapi juga dapat menjalankan berbagai tugas administratif, termasuk membalas email, melakukan reservasi, memperbaiki sistem, hingga melakukan inspeksi perangkat secara mandiri.
Ia mencontohkan bagaimana di masa depan, AI bisa menggantikan manusia dalam mengelola ratusan ribu sistem dan perangkat teknologi di Jepang.
"Sampai sekarang, sensor hanya mendeteksi masalah dan manusia yang memberi instruksi. Namun dengan agen AI, setiap perangkat bisa dinilai dan ditangani secara mandiri," ujarnya dilansir Asahi Shimbun.
Rencananya, terang Son, setiap karyawan SoftBank Group akan membuat lebih dari 1.000 agen AI, sehingga totalnya mencapai 1 miliar.
Agen AI, yang dirancang khusus untuk setiap karyawan, akan bertanggung jawab atas beberapa keputusan dan negosiasi sehari-hari.
Dengan demikian, setiap karyawan akan menjadi seperti Senju Kannon, dewa Buddha yang digambarkan memiliki seribu tangan, kata Son.
Perusahaan juga akan menciptakan sistem operasi (OS) yang memungkinkan agen AI bekerja sama satu sama lain, ujarnya.
Sam Altman, CEO OpenAI yang berbasis di AS, juga berpartisipasi dalam acara daring tersebut.
OpenAI bekerja sama dengan SoftBank Group dalam Stargate, sebuah proyek untuk membangun jaringan pusat data besar di Amerika Serikat, dan Altman mengatakan proyek tersebut menunjukkan kemajuan yang baik.
Pada bulan Februari, kedua perusahaan mengumumkan bahwa mereka akan menyediakan layanan AI bernama Cristal Intelligence untuk bisnis di Jepang.
Pada acara tersebut, Son menyatakan kekhawatirannya bahwa penggunaan AI generatif di Jepang tertinggal dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Tiongkok.
“Saya juga merasa bahwa masyarakat (Jepang) secara keseluruhan semakin menua,” ujarnya.
“Hal terpenting bagi Jepang saat ini adalah menghadapi evolusi ini secara langsung dan berpartisipasi di dalamnya.”