Arsip foto - Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu (kiri) berbincang dengan Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Anadolu)
YERUSALEM, ARAHKITA.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer negaranya untuk menangguhkan sejumlah operasi tempur selama dirinya berada di Amerika Serikat. Kebijakan itu diambil guna menghindari potensi eskalasi yang dinilai bisa menimbulkan dampak politik dan keamanan yang tidak diinginkan.
Lembaga penyiaran publik Israel, KAN, pada Senin (29/12/2025) melaporkan bahwa jajaran kepemimpinan politik Israel telah menginstruksikan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk menahan sebagian aktivitas militer hingga Netanyahu merampungkan agenda kunjungannya ke Amerika Serikat.
“Keputusan ini bertujuan mencegah terjadinya perkembangan situasi yang dapat mempersulit atau mengganggu pertemuan tingkat tinggi Perdana Menteri dengan Presiden AS,” tulis KAN dalam laporannya.
Netanyahu diketahui tiba di Amerika Serikat pada Minggu untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump di Florida. Kunjungan tersebut berlangsung di tengah situasi keamanan yang masih tegang, menyusul insiden ledakan bom di Rafah, Gaza selatan, yang melukai seorang perwira cadangan Israel.
Menanggapi kejadian itu, Netanyahu menuding kelompok Hamas sebagai pihak yang bertanggung jawab. “Serangan tersebut menunjukkan bahwa ancaman keamanan masih nyata,” ujar Netanyahu, seperti dikutip media Israel.
Pertemuan Netanyahu dan Trump diperkirakan akan memfokuskan pembahasan pada kelanjutan kesepakatan gencatan senjata di Gaza, khususnya transisi menuju fase kedua yang mulai diberlakukan sejak Oktober lalu.
Fase lanjutan tersebut mencakup rencana pembentukan tata kelola baru di Jalur Gaza tanpa keterlibatan Hamas, penempatan pasukan multinasional, serta upaya pelucutan senjata kelompok tersebut.
Sementara itu, otoritas kesehatan setempat melaporkan bahwa sejak Oktober 2023, operasi militer Israel di Gaza telah menyebabkan lebih dari 71.000 warga Palestina meninggal dunia, dengan mayoritas korban merupakan perempuan dan anak-anak. Serangan tersebut juga mengakibatkan kerusakan masif yang membuat sebagian besar wilayah Gaza tidak lagi layak huni.