Senin, 05 Januari 2026

Venezuela Kecam Serangan AS, Dunia Internasional Serukan Deeskalasi dan Perlindungan Sipil


 Venezuela Kecam Serangan AS, Dunia Internasional Serukan Deeskalasi dan Perlindungan Sipil Arsip - Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil. (ANTARA/Anadolu/py)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Venezuela menuduh Amerika Serikat melancarkan serangan militer berskala besar ke wilayahnya. Pemerintah Caracas menyebut serangan tersebut menyasar lokasi sipil dan militer di ibu kota Caracas serta sejumlah negara bagian lain, memicu kecaman luas dari kawasan Amerika Latin hingga Eropa.

Menteri Luar Negeri Venezuela, Yvan Gil, menyatakan negaranya menolak dan mengecam keras apa yang disebut sebagai agresi militer terang-terangan AS terhadap wilayah dan rakyat Venezuela. Ia menegaskan, pemerintah telah mengaktifkan rencana pertahanan nasional secara menyeluruh atas perintah Presiden Nicolas Maduro.

Menurut pernyataan resmi pemerintah, sistem pertahanan negara diaktifkan secepat mungkin, disertai seruan mobilisasi nasional guna menghadapi situasi darurat. Venezuela juga menetapkan status gangguan eksternal di seluruh wilayah nasional.

Ledakan dan Klaim Penangkapan Maduro

Di tengah eskalasi, laporan media lokal menyebutkan sejumlah ledakan terdengar di Caracas dan kota-kota lain pada dini hari. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan kepulan asap, sirene serangan udara, hingga pemadaman listrik di beberapa kawasan yang berdekatan dengan instalasi militer.

Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi operasi militer tersebut melalui media sosial dan mengklaim bahwa Presiden Maduro beserta istrinya telah ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri. Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen dan belum dikonfirmasi oleh otoritas Venezuela.

Reaksi Kawasan: Kuba dan Kolombia Mengecam

Serangan ini langsung menuai kecaman dari negara-negara Amerika Latin. Presiden Kuba mengecam keras tindakan AS dan menyebutnya sebagai bentuk terorisme negara terhadap rakyat Venezuela. Sementara Presiden Kolombia menyatakan keprihatinan atas meningkatnya aktivitas militer dan dampaknya terhadap warga sipil, serta menolak tindakan sepihak yang berpotensi memperburuk krisis.

Uni Eropa dan PBB Dorong Penahanan Diri

Dari Eropa, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan menegaskan pentingnya menghormati hukum internasional serta Piagam PBB dalam situasi apa pun. Uni Eropa menyatakan terus memantau perkembangan di lapangan dan memprioritaskan keselamatan warga negaranya di Venezuela.

Pemerintah Venezuela juga telah meminta rapat darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) guna membahas apa yang mereka sebut sebagai agresi militer kriminal. Caracas menegaskan bahwa kedaulatan negara dan hukum internasional harus ditegakkan dikutip Antara.

Indonesia: WNI Aman, Dorong Solusi Damai

Di tengah ketegangan, Kementerian Luar Negeri RI memastikan seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) di Venezuela berada dalam kondisi aman. KBRI Caracas bersama perwakilan RI di kawasan Amerika Selatan terus memantau situasi dan menjalin komunikasi aktif dengan para WNI.

Pemerintah Indonesia juga menyerukan agar semua pihak mengedepankan deeskalasi, dialog, dan penyelesaian damai sesuai hukum internasional, serta mengingatkan pentingnya perlindungan warga sipil di tengah konflik yang berkembang cepat.

Ketegangan Masih Berlanjut

Hingga kini, situasi di Venezuela masih dinamis. Tuduhan serangan, klaim penangkapan kepala negara, serta reaksi keras komunitas internasional menunjukkan bahwa krisis ini berpotensi berdampak luas, tidak hanya bagi Venezuela, tetapi juga stabilitas kawasan dan tatanan global.

 

Editor : M. Khairul

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru