Senin, 05 Januari 2026

Iran Tegaskan Tolak Campur Tangan Asing di Tengah Aksi Protes dan Tekanan AS


 Iran Tegaskan Tolak Campur Tangan Asing di Tengah Aksi Protes dan Tekanan AS Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi. ANTARA/Xinhua/Shadati/aa.

TEHERAN, ARAHKITA.COM - Pemerintah Iran menegaskan sikap keras terhadap segala bentuk intervensi asing di tengah gelombang unjuk rasa yang terjadi di sejumlah kota. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menolak peringatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Washington akan bertindak jika demonstran damai di Iran diserang.

Melalui unggahan di media sosial X, Araghchi menyatakan bahwa Iran tidak akan mentoleransi campur tangan negara lain dalam urusan domestiknya. Ia menegaskan kesiapan militer negaranya untuk menjaga kedaulatan nasional.

“Angkatan bersenjata Iran berada dalam posisi siaga dan mengetahui dengan tepat ke mana harus membidik jika kedaulatan kami dilanggar,” tulis Seyed Abbas Araghch, seperti yang dikuttip dari Antara.

Pernyataan tersebut merupakan respons atas unggahan Donald Trump di Truth Social, yang menyebut Amerika Serikat akan “datang menyelamatkan” warga Iran jika aparat keamanan menembaki demonstran damai.

Aksi Protes Dipicu Tekanan Ekonomi

Gelombang demonstrasi pecah sejak Minggu (28/12/2025), dipicu oleh melemahnya nilai tukar rial Iran secara tajam. Araghchi mengakui bahwa unjuk rasa damai merupakan hak warga negara, terutama bagi mereka yang terdampak langsung oleh gejolak ekonomi.

Namun, ia juga menyoroti adanya insiden kekerasan yang menyertai aksi tersebut. “Serangan terhadap kantor polisi dan aksi pelemparan bom molotov terhadap aparat adalah tindakan kriminal yang tidak dapat dibenarkan,” tegas Araghchi.

Media lokal Iran melaporkan sedikitnya tiga orang tewas dan 13 personel keamanan terluka dalam bentrokan yang terjadi di dua provinsi dalam kurun 24 jam terakhir.

Sanksi Barat Disebut Jadi Akar Masalah

Wakil Gubernur Provinsi Lorestan bidang politik, keamanan, dan sosial, Saeid Pourali, menyebut tekanan ekonomi sebagai pemicu utama unjuk rasa.

“Fluktuasi nilai mata uang dan kekhawatiran terhadap mata pencaharian masyarakat tidak bisa dilepaskan dari sanksi Barat yang kejam,” ujar Pourali kepada media setempat.

Nilai tukar rial Iran terus melemah sejak Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 dan kembali memberlakukan sanksi ekonomi. Saat ini, satu dolar AS diperdagangkan di atas 1,35 juta rial di pasar bebas, mencerminkan tekanan berat terhadap perekonomian Iran.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru