Loading
Asap membubung dari bangunan-bangunan di Teheran, Iran, pada 29 Maret 2026. (Xinhua/Shadati)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Sebanyak 14 anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan tewas dan dua lainnya mengalami luka-luka akibat ledakan amunisi di Provinsi Zanjan, Iran bagian barat laut, pada Jumat (1/5/2026).
Mengutip laporan kantor berita resmi IRNA, insiden terjadi saat pasukan IRGC sedang melakukan operasi penjinakan sisa amunisi yang diduga berasal dari rangkaian konflik bersenjata sebelumnya di wilayah tersebut.
Ledakan tersebut terjadi ketika anggota IRGC tengah menangani amunisi yang belum meledak dari serangan udara yang sebelumnya melibatkan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik berkepanjangan.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip IRNA, unit Korps Ansar al-Mahdi Zanjan menyebutkan bahwa para korban merupakan personel berpengalaman dengan spesialisasi tinggi dalam penjinakan bahan peledak.
“Ledakan terjadi akibat amunisi tidak dikenal yang masih aktif di lokasi operasi,” demikian pernyataan tersebut.
Pihak IRGC juga mengklaim bahwa lebih dari 15.000 amunisi berbahaya yang belum meledak telah berhasil diidentifikasi dan dilumpuhkan dalam operasi sebelumnya di wilayah tersebut.
Insiden ini terjadi di tengah ketegangan regional yang masih menyisakan dampak konflik bersenjata. Sebelumnya, pada akhir Februari, Iran dilaporkan mengalami serangan gabungan yang menyasar beberapa kota besar, termasuk Teheran, yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat.
Dalam rangkaian konflik tersebut, Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone yang ditujukan ke Israel serta sejumlah aset Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Situasi sempat mereda setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata pada 8 April, meski ketegangan di lapangan masih terus berlanjut.