Loading
AS Sita Kapal Tanker Minyak Berbendera Rusia, Trump Berpotensi Bentrok dengan Putin. (Whitehouse.gov)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Amerika Serikat menyita sebuah kapal tanker minyak berbendera Rusia di Samudra Atlantik dalam operasi yang dinilai berpotensi memicu ketegangan serius antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Langkah ini terjadi di tengah situasi global yang semakin tidak stabil dan memunculkan kekhawatiran akan memburuknya hubungan Barat dengan Moskow.
Pemerintah Inggris , dilansir The Independent, mengonfirmasi bahwa angkatan bersenjata Inggris turut memberikan dukungan dalam penangkapan kapal tanker bernama Marinera tersebut. Kapal yang sebelumnya dikenal sebagai Bella-1 dan memiliki keterkaitan dengan Venezuela itu dicegat saat berlayar melalui perairan antara Islandia dan Skotlandia. Kementerian Pertahanan Inggris menyebut dukungan tersebut dilakukan sesuai dengan hukum internasional.
Trump menanggapi operasi tersebut dengan pernyataan bernada tajam di media sosial. Ia menyindir mitra NATO dan menegaskan bahwa hanya Amerika Serikat di bawah kepemimpinannya yang ditakuti oleh China dan Rusia. Pernyataan ini muncul meski Inggris secara terbuka mengakui keterlibatannya dalam operasi penyitaan kapal tanker tersebut.
Menteri Pertahanan Inggris John Healey menyatakan bahwa Marinera merupakan bagian dari jaringan kapal tanker bayangan yang digunakan untuk menghindari sanksi internasional. Menurutnya, kapal tersebut terlibat dalam aktivitas yang mendukung pendanaan konflik dan ketidakstabilan global, termasuk di Ukraina dan Timur Tengah. Healey juga menegaskan bahwa kapal itu sempat mengibarkan bendera Guyana sebelum kemudian mencoba beralih ke bendera Rusia.
Pemerintah Rusia merespons dengan menyatakan bahwa Marinera telah memperoleh izin sementara untuk berlayar di bawah bendera Federasi Rusia. Kementerian Transportasi Rusia menegaskan bahwa berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut, tidak ada negara yang berhak menggunakan kekerasan terhadap kapal yang terdaftar secara sah di yurisdiksi negara lain. Pernyataan ini memunculkan dugaan bahwa Moskow memandang penyitaan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional.
Komando Eropa AS menyatakan penyitaan dilakukan karena pelanggaran sanksi Amerika Serikat. Dalam waktu hampir bersamaan, AS juga menyita kapal tanker lain bernama Sophia di kawasan Karibia, yang diduga memiliki keterkaitan dengan Venezuela. Otoritas AS menyebut kedua kapal tersebut terakhir kali berlabuh atau tengah menuju Venezuela.
Pejabat Amerika Serikat menyatakan bahwa kendali atas Marinera kini telah diserahkan kepada aparat penegak hukum, sementara awak kapal berpotensi menghadapi tuntutan hukum. Penyitaan ini disebut sebagai bagian dari upaya Washington menegakkan sanksi ekonomi terhadap jaringan perdagangan minyak ilegal.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa tindakan ini dapat memicu krisis diplomatik baru antara Amerika Serikat dan Rusia. Seorang penasihat Kremlin bahkan menyebut penyitaan kapal tanker tersebut berpotensi dianggap sebagai serangan terhadap Rusia dan dapat memperburuk hubungan bilateral kedua negara.
Di Eropa, langkah Trump memicu kekhawatiran yang lebih luas terkait stabilitas keamanan regional. Sejumlah tokoh militer dan politik Inggris mendesak pemerintah untuk bersikap lebih tegas terhadap ancaman Trump terkait Greenland. Para pemimpin Eropa, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, menyatakan tidak akan berhenti membela integritas teritorial Greenland dan menegaskan penolakan terhadap upaya pencaplokan wilayah tersebut.