Loading
Ilustrasi - seorang wanita kelelahan. (freepik)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Psikolog klinis Virginia Hanny, M.Psi., Psikolog, menekankan bahwa empati perlu diimbangi dengan batasan sehat, terutama saat menghadapi situasi krisis berkepanjangan seperti bencana alam atau konflik sosial.
Menurut Hanny, tanpa batasan yang jelas, empati bisa berkembang menjadi compassion fatigue, atau kelelahan emosional, yang membuat penolong kewalahan bahkan mengalami trauma sendiri.
“Kelelahan emosional dapat dialami oleh tenaga kesehatan, relawan, atau masyarakat yang sangat terlibat secara emosional,” kata Hanny saat diwawancarai di Jakarta, Senin (26/11/2026), seperti yang dikutip dari Antara.
Psikolog lulusan Universitas Padjadjaran ini menyarankan beberapa langkah agar empati tetap sehat, salah satunya dengan membedakan empati dengan keterlibatan berlebihan (over-involvement), sehingga kita tetap peduli tanpa larut sepenuhnya dalam penderitaan orang lain.
“Membangun ‘psychological boundaries’, di mana kita menyadari bahwa kita bisa peduli tanpa harus bertanggung jawab atas semua penderitaan orang lain,” tutur Hanny.
Hanny menambahkan, mengakui keterbatasan diri juga sangat penting karena setiap individu memiliki kapasitas emosional terbatas dan tidak mungkin membantu semua orang. Selain itu, ia menyarankan memberi jeda dari konten yang memicu stres, seperti video atau narasi emosional, dan mengisi waktu dengan aktivitas yang bermakna seperti refleksi diri, olahraga, atau kegiatan kreatif.
“Melakukan hal-hal tersebut bukan berarti mengurangi kepedulian terhadap korban, melainkan menjaga diri agar empati tetap terjaga dalam jangka panjang,” jelas Hanny, yang berpraktik di Personal Growth.
Langkah-langkah ini dianggap penting untuk menjaga kesehatan mental dan memastikan empati dapat diberikan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan diri sendiri.