Loading
Donald Trump menjawab pertanyaan dari anggota media selama pertemuan dengan para eksekutif minyak dan gas di Ruang Timur Gedung Putih pada 9 Januari 2026 di Washington DC. (Foto: Getty Images)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa Washington dan Havana masih memiliki peluang untuk duduk bersama dan mencapai kesepakatan guna meredam krisis kemanusiaan yang tengah melanda Kuba.
Menurut Trump, kondisi yang dihadapi Kuba saat ini seharusnya tidak perlu berujung pada krisis berkepanjangan. Ia menilai pemerintah Kuba pada akhirnya akan membuka pintu dialog dengan Amerika Serikat demi mencari jalan keluar.
“Ini tidak harus menjadi krisis kemanusiaan. Saya pikir mereka akan datang kepada kami untuk membuat kesepakatan, sehingga Kuba bisa kembali bebas,” ujar Trump saat berbincang dengan wartawan, Minggu (1/2/2026).
Selain membuka peluang kesepakatan politik dan ekonomi, Trump juga menyinggung keinginannya untuk memberi ruang bagi warga Amerika keturunan Kuba agar dapat kembali mengunjungi keluarga mereka di tanah kelahiran. Menurutnya, ada banyak warga Kuba-Amerika di AS yang telah lama terpisah dari keluarganya akibat ketegangan hubungan kedua negara.
“Saat ini ada banyak orang di Amerika Serikat yang ingin kembali ke Kuba untuk bertemu keluarga mereka. Kami ingin mengupayakan itu,” kata Trump. Ia juga menegaskan keinginannya agar warga Kuba-Amerika mendapat perlakuan yang lebih baik dari pemerintah di Havana.
Sikap optimistis tersebut muncul di tengah langkah tegas Washington terhadap Kuba. Pada Kamis (29/1/2026), Trump menandatangani perintah eksekutif yang membuka jalan bagi penerapan tarif impor terhadap negara-negara yang menjual atau memasok minyak ke Kuba. Ia juga menetapkan status darurat nasional dengan alasan adanya potensi ancaman terhadap keamanan nasional Amerika Serikat dikutip Antara.
Sementara itu, Kuba saat ini masih bergulat dengan krisis serius. Pemadaman listrik yang berlangsung lebih dari 12 jam, kelangkaan pangan, obat-obatan, serta bahan bakar menjadi bagian dari keseharian warga. Kondisi tersebut memicu tekanan sosial dan ekonomi yang semakin berat.
Pemerintah Kuba menilai krisis ini sebagai dampak langsung dari sanksi ekonomi Amerika Serikat yang telah berlangsung lebih dari enam dekade. Kebijakan tersebut pun terus menuai kritik dari komunitas internasional yang mendesak agar pembatasan ekonomi terhadap Kuba segera dikaji ulang.