Loading
Aktivis peserta konvoi pelayaran Global Sumud Flotilla (GSF), yang sebelumnya ditahan Israel di perairan internasional, tiba di Istanbul, Turki, Kamis (21/5/2026). (ANTARA/Anadolu/Hakan Akgün/py/am)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah Malaysia bersiap membawa Israel ke Mahkamah Internasional atau International Court of Justice (ICJ) terkait dugaan penculikan dan penyiksaan terhadap para aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang berupaya menyalurkan bantuan ke Jalur Gaza.
Langkah hukum itu diumumkan setelah armada kemanusiaan yang membawa ratusan aktivis internasional dilaporkan diserang dan ditahan pasukan Israel di perairan internasional pekan lalu. Armada tersebut diketahui sedang mencoba menembus blokade laut menuju Gaza untuk mengirim bantuan kemanusiaan bagi warga sipil.
Menteri Besar Selangor, Amirudin Shari, mengatakan proses hukum akan segera dimulai setelah tim pengacara menyelesaikan pengumpulan data, dokumen, dan bukti pendukung terkait dugaan pelanggaran hukum internasional tersebut.
Menurut laporan media Malay Mail, lebih dari 400 aktivis internasional berada di dalam armada Global Sumud Flotilla saat insiden terjadi. Sejumlah peserta, termasuk aktivis asal Malaysia, disebut mengalami perlakuan kasar selama penahanan.
“Kami tidak akan diam dan tidak akan berhenti. Tim hukum sedang mengumpulkan seluruh dokumentasi pelanggaran hukum internasional. Mereka telah diculik lebih dari satu kali dan mengalami penyiksaan,” ujar Amirudin saat menyambut kepulangan peserta Global Sumud Flotilla 2.0 di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Senin (25/5/2026).
Ia menegaskan Malaysia akan terus meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Israel sambil menyiapkan jalur hukum internasional. Pemerintah Malaysia juga disebut akan memperluas kampanye dukungan terhadap Palestina ke berbagai wilayah di dalam negeri.
“Kami akan membawa kasus ini ke pengadilan internasional dan terus memberikan tekanan diplomatik,” katanya dikutip Antara.
Selain gugatan hukum, Malaysia juga berencana menggelar konferensi internasional terkait Palestina di negaranya dalam waktu
mendatang. Agenda tersebut diharapkan menjadi bagian dari penguatan advokasi internasional untuk mendukung pembebasan Gaza dan penghentian blokade.
Amirudin menambahkan, meskipun misi Global Sumud Flotilla 2.0 telah berakhir, dukungan Malaysia terhadap perjuangan rakyat Palestina tidak akan berhenti. Bahkan, rencana pelayaran lanjutan bertajuk Sumud 3.0 disebut tengah dipersiapkan sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan hingga blokade Gaza dicabut.