Loading
Email Mengejutkan ke FBI: Trump Dituduh Berperan dalam Kematian Epstein. (whitehouse.gov)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Nama Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali terseret dalam pusaran kontroversi Jeffrey Epstein setelah dokumen yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengungkap adanya laporan yang dikirim ke FBI oleh Mark Epstein, saudara kandung mendiang Jeffrey Epstein.
Dalam laporan daring yang dikirim ke Pusat Operasi Ancaman Nasional FBI pada 22 Februari 2023, Mark Epstein menuding bahwa saudaranya tidak meninggal karena bunuh diri, melainkan dibunuh saat ditahan di Pusat Pemasyarakatan Metropolitan, New York, pada 2019. Dalam laporan tersebut, ia secara langsung menuduh Presiden Trump terlibat dalam kematian itu.
“Jeffrey Epstein dibunuh di sel penjara. Saya punya alasan untuk percaya bahwa dia dibunuh karena akan menyebutkan nama-nama orang. Saya percaya Presiden Trump mengotorisasi pembunuhan ini,” demikian isi laporan yang tercantum dalam berkas tersebut seperti dilansir The Independent.
Laporan itu disertai informasi kontak pribadi dan alamat IP pengirim, meski detail tersebut telah disensor dalam dokumen yang dirilis ke publik. Dokumen tersebut juga menunjukkan bahwa laporan Mark Epstein diteruskan oleh seorang pemeriksa ancaman FBI kepada agen khusus, meski tidak ada keterangan lanjutan mengenai tindak lanjut penyelidikan.
Mark Epstein mengonfirmasi kepada The Independent bahwa ia memang mengirim laporan tersebut. Namun, ia menyatakan hingga kini tidak pernah dihubungi oleh FBI maupun aparat penegak hukum lainnya untuk menindaklanjuti tuduhannya. Ia menolak memberikan komentar lebih lanjut.
Menanggapi beredarnya dokumen tersebut, seorang juru bicara Gedung Putih merujuk pada siaran pers Departemen Kehakiman Amerika Serikat tertanggal 3 Januari. Dalam pernyataan itu, Departemen Kehakiman menegaskan bahwa dokumen yang dirilis berdasarkan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein mencakup seluruh materi yang dikirim publik ke FBI, termasuk dokumen yang tidak diverifikasi atau berisi klaim palsu.
“Beberapa dokumen berisi klaim yang tidak benar dan sensasional terhadap Presiden Trump. Klaim tersebut tidak berdasar dan salah, dan jika memiliki sedikit kredibilitas, pasti sudah digunakan sebagai senjata politik,” bunyi pernyataan Departemen Kehakiman tersebut.
FBI hingga kini belum memberikan komentar resmi terkait laporan Mark Epstein maupun dokumen yang beredar.
Dalam sejumlah wawancara sebelumnya, Mark Epstein secara konsisten menyatakan keyakinannya bahwa saudaranya tidak meninggal karena bunuh diri. Ia bahkan menyebut akan ada fakta tambahan dari hasil otopsi yang menurutnya dapat memperkuat dugaan pembunuhan.
Ia juga mengklaim bahwa Jeffrey Epstein memiliki informasi sensitif mengenai tokoh-tokoh berpengaruh, termasuk terkait pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016. Meski mengaku tidak pernah menerima detail langsung, Mark Epstein mengatakan ia meyakini saudaranya menyimpan informasi rahasia tentang Trump.
Jeffrey Epstein dan Donald Trump diketahui pernah memiliki hubungan sosial. Dalam wawancara tahun 2002 dengan New York Magazine, Trump menyebut Epstein sebagai “pria yang hebat.” Namun setelah penangkapan Epstein pada 2019, Trump menyatakan bahwa dirinya telah lama berselisih dengan Epstein dan tidak berhubungan selama lebih dari satu dekade.
Mark Epstein membantah pernyataan tersebut dan menilai klaim Trump tidak sesuai dengan fakta yang ia ketahui.