Jumat, 02 Oktober 2026

Iran Tegas Menutup Pintu Negosiasi, Ali Larijani: Ini Dampak Kebijakan Trump


 Iran Tegas Menutup Pintu Negosiasi, Ali Larijani: Ini Dampak Kebijakan Trump Kepala keamanan Iran Ali Larijani menolak pembicaraan dengan AS. (Parstoday.ir)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mencapai titik kritis. Kepala keamanan Iran sekaligus mantan negosiator nuklir utama, Ali Larijani, secara tegas menolak kemungkinan pembicaraan dengan Amerika Serikat. Ia menyalahkan Presiden Donald Trump atas kekacauan yang kini meluas di kawasan.

Pernyataan itu muncul di tengah konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang telah memicu gelombang serangan balasan lintas negara. Dalam situasi tersebut, Larijani menegaskan Teheran tidak memiliki rencana untuk duduk di meja perundingan dengan Washington, meski Trump mengklaim ada sinyal negosiasi dari kepemimpinan baru Iran.

Menurut laporan CNBC, konflik ini juga dibayangi krisis internal di Iran. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas pada hari pertama perang, sementara media pemerintah mencatat lebih dari 200 korban jiwa. Di sisi lain, AS mengonfirmasi tiga tentaranya tewas dan lima lainnya mengalami luka serius.

Iran kini berada dalam masa transisi kepemimpinan yang sensitif. Dewan sementara yang melibatkan ulama senior Ayatollah Alireza Arafi dan Presiden Masoud Pezeshkian mengambil alih kendali negara. Kondisi ini membuat arah kebijakan luar negeri Iran semakin sulit diprediksi, terutama di tengah tekanan militer dan diplomatik dari Barat.

Dampak konflik tidak hanya terasa secara politik, tetapi juga mengguncang pasar global. Bursa saham Eropa diperkirakan dibuka melemah, menyusul kekhawatiran investor atas eskalasi perang. Indeks utama seperti FTSE Inggris, DAX Jerman, hingga CAC 40 Prancis diproyeksikan turun signifikan seiring meningkatnya sentimen risk-off di pasar internasional.

Sementara itu, serangan balasan Iran juga memicu kekacauan di kawasan Teluk. Ledakan dilaporkan terdengar di Dubai dan Abu Dhabi selama tiga hari berturut-turut. Otoritas Uni Emirat Arab menyebut ratusan rudal balistik dan drone berhasil dicegat, meski sejumlah lokasi strategis tetap menjadi sasaran.

Situasi semakin rumit setelah Amazon Web Services (AWS) melaporkan gangguan serius di pusat data mereka di UEA akibat insiden yang diduga terkait serangan tersebut. Gangguan ini berdampak pada konektivitas digital dan menambah daftar panjang efek domino konflik.

Dengan kondisi politik yang rapuh, eskalasi militer yang belum mereda, serta penolakan tegas Iran terhadap dialog, prospek penyelesaian damai konflik ini masih terlihat jauh. Dunia kini menunggu apakah ketegangan ini akan berujung pada perang berkepanjangan atau justru membuka jalan bagi peta geopolitik baru di Timur Tengah.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru