Loading
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan konferensi pers di Ruang Briefing Pers James S. Brady di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat, Selasa (6/4/2026). ANTARA/Anadolu/Celal Güneş/pri.
WASHINGTON, ARAHKITA.COM – Hubungan antara Amerika Serikat dan Italia mendadak memanas. Presiden AS, Donald Trump, secara terbuka melontarkan ancaman yang mengejutkan: ia menyatakan negaranya bisa saja tidak lagi membela Italia di tengah konflik global yang kian kompleks.
Pernyataan keras itu disampaikan Trump melalui platform Truth Social pada Kamis (16/4/2026). Dalam unggahannya, ia menulis tegas, “Italia tidak ada untuk kita, kita juga takkan ada untuk mereka!” — sebuah kalimat yang langsung memicu perhatian publik internasional.
Ketegangan ini tidak muncul begitu saja. Dalam beberapa hari terakhir, hubungan Trump dengan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, mengalami keretakan. Padahal sebelumnya, Meloni dikenal sebagai salah satu sekutu dekat Trump di antara negara-negara NATO.
Akar Konflik: Iran dan Paus Leo
Perselisihan dipicu oleh dua isu besar: perang terhadap Iran dan pernyataan kontroversial Trump mengenai Paus Leo.Trump menunjukkan kekecewaannya setelah Italia dinilai tidak mendukung langkah Amerika Serikat—bersama Israel—dalam menghadapi Iran. Ia bahkan mengaku “terkejut” dengan sikap Meloni yang dianggap enggan membantu.
Dalam wawancaranya dengan media Italia Corriere della Sera, Trump juga menanggapi kritik Meloni terhadap sikapnya kepada Paus Leo. Sebelumnya, Meloni menyebut kemarahan Trump terhadap Paus sebagai sesuatu yang “tidak bisa diterima.”
Namun Trump justru membalas dengan nada lebih tajam. Ia menuding Italia tidak cukup serius melihat ancaman Iran, bahkan menyebut negara tersebut berpotensi menghancurkan Italia dalam hitungan menit jika memiliki kesempatan.
Paus Leo Ikut Terseret
Situasi makin sensitif ketika Paus Leo turut menjadi bagian dari polemik. Pemimpin Gereja Katolik tersebut sebelumnya menyuarakan solidaritas terhadap warga Palestina di Gaza dan secara terbuka menentang perang terhadap Iran.
Trump kemudian melontarkan kritik keras terhadap Paus, menyebut Iran sebagai ancaman serius dan menyinggung laporan kekerasan terhadap demonstran di negara tersebut.
Pernyataan ini memicu reaksi luas, terutama di Italia. Meski Paus Leo berasal dari Amerika Serikat, keberadaan Vatikan di Roma serta kuatnya pengaruh Katolik membuat serangan terhadap Paus terasa sebagai serangan langsung terhadap Italia.Reaksi Italia: Dari Pemerintah hingga Oposisi
Tak hanya pemerintah, tokoh-tokoh oposisi di Italia juga mengecam keras pernyataan Trump. Banyak pihak menilai komentar tersebut tidak hanya memperburuk hubungan bilateral, tetapi juga berpotensi mengguncang soliditas NATO di tengah ketegangan global.
Di sisi lain, pasar global ikut merespons situasi ini dengan waspada. Konflik Iran yang memanas ditambah retaknya hubungan antar sekutu Barat menjadi kombinasi yang berisiko terhadap stabilitas ekonomi dunia dikutip Antara.
Apa Dampaknya?
Jika ketegangan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin hubungan strategis AS–Italia akan mengalami perubahan signifikan. Padahal, keduanya selama ini menjadi bagian penting dalam aliansi keamanan Barat.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa dalam geopolitik global, satu pernyataan bisa memicu efek domino—dari diplomasi, keamanan, hingga ekonomi dunia.