Loading
Ilustrasi - Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Krisis energi mulai menghantui sejumlah negara di Afrika. Di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah, pasokan bahan bakar di beberapa negara dilaporkan semakin menipis dan harga terus meroket.Situasi ini menunjukkan betapa rentannya sistem energi global—ketika satu kawasan memanas, dampaknya bisa terasa hingga ke benua lain.
Di Zambia, misalnya, cadangan energi berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Stok bensin yang tersedia hanya sekitar 40 juta liter, cukup untuk kurang dari satu bulan. Sementara itu, minyak tanah diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar sembilan hari, dan bahan bakar pesawat (Jet A-1) bahkan hanya cukup untuk sekitar 10 hari.
Kondisi serupa juga mulai terlihat di Afrika Selatan. Kelangkaan solar di sejumlah stasiun pengisian semakin sering terjadi. Pemerintah setempat pun mulai bergerak cepat dengan merancang strategi diversifikasi pasokan, meningkatkan kapasitas penyimpanan, hingga mempercepat pembangunan infrastruktur energi.
Di Somalia, lonjakan harga bahan bakar bahkan sudah menembus dua kali lipat. Pemerintah pun turun tangan dengan mengatur harga dan menetapkan batas keuntungan bagi para penjual. Aturan ini juga disertai sanksi tegas bagi pelanggar, sebagai upaya menahan gejolak pasar.
Sementara itu, Zimbabwe menghadapi tekanan dari sisi harga. Pemerintah setempat kembali menaikkan harga bahan bakar untuk kedua kalinya dalam waktu berdekatan. Harga bensin kini mencapai sekitar Rp37 ribu per liter, sementara solar menyentuh Rp35 ribu per liter.
Meski demikian, otoritas setempat memastikan cadangan energi nasional masih relatif aman dan diperkirakan cukup untuk lebih dari tiga bulan ke depan.
Efek Domino Konflik Global
Krisis ini tak lepas dari memanasnya situasi di Timur Tengah, kawasan yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia. Ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi mengganggu stabilitas pasokan minyak global.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, bahkan telah memperingatkan bahwa konflik ini bisa lepas kendali dan berdampak luas, tidak hanya bagi kawasan, tetapi juga bagi ekonomi global.
Ia menekankan pentingnya diplomasi untuk meredakan ketegangan, sekaligus mendesak agar jalur distribusi energi utama dunia tetap terbuka.
Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak dunia. Jika jalur ini terganggu, dampaknya bisa dirasakan oleh negara-negara di berbagai belahan dunia, termasuk Afrika.
“Penutupan Selat Hormuz akan menyebabkan penderitaan besar bagi masyarakat global yang tidak terlibat dalam konflik,” tegas Guterres dikutip Antara.
Alarm untuk Dunia
Apa yang terjadi di Afrika saat ini menjadi pengingat bahwa krisis energi bukan lagi isu lokal, melainkan persoalan global.
Ketergantungan pada pasokan energi lintas negara membuat banyak negara rentan terhadap gejolak geopolitik. Tanpa strategi diversifikasi dan ketahanan energi yang kuat, krisis serupa bisa dengan mudah meluas.
Kini, dunia menunggu: apakah diplomasi mampu meredakan konflik, atau justru krisis energi akan semakin dalam?