Trump Ancam Negara NATO yang Tak Dukung Serangan ke Iran, Ketegangan Memanas


 Trump Ancam Negara NATO yang Tak Dukung Serangan ke Iran, Ketegangan Memanas Ilustrasi - Presiden AS Donald Trump (depan) menghadiri konferensi pers setelah KTT NATO di Den Haag, Belanda, pada 25 Juni 2025. ANTARA/HO- Xinhua/Zhao Dingzhe/pri.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Hubungan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di NATO kembali memanas. Presiden AS, Donald Trump, dilaporkan meluapkan kemarahan terhadap sejumlah negara anggota NATO yang menolak memberikan dukungan penuh dalam operasi militer terhadap Iran.

Laporan Financial Times pada Jumat (10/4/2026) menyebutkan bahwa ketegangan ini mencuat setelah beberapa negara Eropa membatasi akses Amerika Serikat ke pangkalan militer mereka. Langkah tersebut dianggap Trump sebagai bentuk kurangnya solidaritas dalam aliansi pertahanan.

Kemarahan Trump terlihat jelas saat pertemuannya dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, di Gedung Putih. Dalam pertemuan tersebut, Trump secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap sikap negara-negara sekutu, terutama Prancis dan Spanyol.

Menurut sumber yang mengetahui jalannya pertemuan, Trump bahkan mengancam akan mengambil langkah tegas terhadap negara-negara yang dinilai tidak memberikan dukungan yang layak kepada Amerika Serikat. Namun hingga kini, belum ada penjelasan detail mengenai bentuk sanksi atau tindakan yang akan diambil.

Di sisi lain, Mark Rutte disebut memahami kekecewaan Trump. Meski begitu, perbedaan pandangan di antara anggota NATO tampak semakin jelas, terutama terkait keterlibatan dalam konflik Iran.

Tak lama setelah pertemuan tersebut, Trump kembali menegaskan sikapnya melalui platform Truth Social. Ia mengaku meragukan komitmen NATO jika suatu saat Amerika Serikat membutuhkan bantuan militer dikutip Antara.

Kritik Trump terhadap NATO sebenarnya bukan hal baru. Pada 17 Maret lalu, ia bahkan menyebut aliansi tersebut telah membuat “kesalahan yang sangat bodoh” karena tidak mendukung operasi militer AS terhadap Iran.

Trump juga menilai NATO kini berubah menjadi aliansi yang “tidak seimbang” atau bahkan “satu arah”, di mana Amerika Serikat dianggap lebih banyak memberi daripada menerima dukungan.

Situasi ini menambah daftar panjang ketegangan antara Washington dan negara-negara Eropa, sekaligus memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan solidaritas NATO di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru