Loading
Ilustrasi - AS dan Lebanon mendesak Israel menghentikan serangan menjelang perundingan damai. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Harapan untuk meredakan konflik di Timur Tengah kembali menguat. Lebanon, melalui mediasi Amerika Serikat (AS), secara resmi meminta Israel untuk menghentikan serangan militer menjelang rencana perundingan antara kedua pihak.
Permintaan ini bukan tanpa dukungan. Pemerintah AS disebut turut mendorong Israel agar menyetujui penghentian serangan sementara demi membuka ruang dialog yang lebih kondusif. Namun hingga kini, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, belum memberikan keputusan final.
Di sisi lain, sinyal menuju perundingan mulai terlihat. Pada Kamis, kantor Netanyahu mengumumkan bahwa pemerintah Israel telah menginstruksikan dimulainya pembicaraan langsung dengan Lebanon. Fokus utama perundingan ini adalah pelucutan senjata kelompok Syiah Hizbullah serta upaya menciptakan stabilitas jangka panjang di kawasan.
Situasi di lapangan sendiri masih jauh dari kata tenang. Meski sebelumnya sempat muncul laporan mengenai gencatan senjata selama dua pekan antara Iran dan AS—yang juga mencakup penghentian konflik di Lebanon—ketegangan tetap berlanjut dikutip Antara..
Hizbullah bahkan sempat menahan diri dengan menghentikan operasinya terhadap Israel. Namun, kondisi kembali memanas setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Beirut serta wilayah Lebanon selatan pada Rabu.
Serangan tersebut memicu respons cepat. Hizbullah dilaporkan melakukan serangan balasan sehari setelahnya, tepatnya pada Kamis (9/4/2026), menandai kembali meningkatnya eskalasi konflik.
Kini, tekanan internasional terus menguat agar kedua pihak menahan diri dan memberi ruang bagi diplomasi. Perundingan yang direncanakan menjadi titik krusial—apakah konflik akan mereda, atau justru kembali membesar.