Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana blokade Selat Hormuz untuk menekan Iran. (whitehouse.gov)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana blokade angkatan laut di Selat Hormuz—jalur strategis perdagangan minyak dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Minggu (12/4/2026) melalui platform Truth Social. Ia menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk menghentikan apa yang disebutnya sebagai praktik “pemerasan” oleh Iran terhadap lalu lintas maritim internasional.
“Blokade akan segera dimulai. Negara-negara lain juga akan terlibat,” tulis Trump.
Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, terutama untuk distribusi minyak global.
Karena itu, kebijakan ini berpotensi memicu dampak luas, tidak hanya secara geopolitik tetapi juga ekonomi global.
Trump menyebut, Angkatan Laut Amerika Serikat akan melakukan pengawasan ketat terhadap seluruh kapal yang melintas di kawasan tersebut. Bahkan, kapal yang diduga memberikan “upeti” kepada Iran akan menjadi target pemeriksaan dan pencegatan.
“Saya telah menginstruksikan Angkatan Laut untuk mencari dan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang membayar bea ilegal kepada Iran. Tidak akan ada jalur aman bagi mereka,” tegasnya.
Baca juga:
Blokade Selat Hormuz Picu Kekhawatiran, Arab Saudi Minta AS Kembali Berunding dengan IranIa juga menegaskan sikap keras pemerintahannya terhadap Iran. Menurut Trump, tidak ada negara—terutama Amerika Serikat—yang boleh tunduk pada tekanan semacam itu.
Di sisi lain, Trump mengungkapkan bahwa upaya diplomasi terakhir antara kedua pihak belum mencapai titik temu, khususnya terkait isu nuklir Iran.
“Pertemuan berjalan baik, banyak hal disepakati. Tapi satu hal yang paling penting—nuklir—tidak tercapai,” ujarnya dikutip Antara.
Trump menuding Iran masih bersikeras melanjutkan program nuklirnya, yang menjadi sumber utama ketegangan selama ini.
Langkah blokade ini pun diprediksi akan memicu respons dari berbagai negara, mengingat Selat Hormuz bukan hanya kepentingan regional, melainkan jalur vital bagi stabilitas energi dunia.