Blokade Selat Hormuz Picu Kekhawatiran, Arab Saudi Minta AS Kembali Berunding dengan Iran


 Blokade Selat Hormuz Picu Kekhawatiran, Arab Saudi Minta AS Kembali Berunding dengan Iran Blokade Selat Hormuz Apa Itu dan Bagaimana Dampaknya bagi Dunia. (Ilustrasi AI)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Arab Saudi mendesak Amerika Serikat untuk menghentikan blokade di Selat Hormuz dan segera kembali ke meja perundingan dengan Iran.

Desakan ini mencuat menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan blokade angkatan laut di Selat Hormuz. Kebijakan tersebut resmi diberlakukan sejak Senin (13/4/2026) pukul 14.00 GMT atau 21.00 WIB.

Langkah ini diambil setelah perundingan antara Washington dan Teheran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan lalu gagal mencapai kesepakatan. Padahal, pertemuan tersebut menjadi bagian penting dari upaya meredakan konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari.

Sebelumnya, kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Namun, ketegangan belum sepenuhnya mereda, terutama setelah rangkaian serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari, yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.400 orang.

Arab Saudi kini khawatir bahwa blokade di Selat Hormuz justru akan memperburuk situasi. Jalur ini merupakan salah satu rute pelayaran paling vital di dunia, terutama untuk distribusi minyak global.

Jika konflik terus meningkat, Iran disebut berpotensi melakukan langkah balasan dengan menutup Bab al-Mandab—jalur strategis di Laut Merah yang juga sangat penting bagi ekspor minyak, termasuk milik Arab Saudi.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Negara-negara Teluk sangat bergantung pada stabilitas jalur laut seperti Selat Hormuz, yang menjadi “urat nadi” perekonomian mereka.

Karena itu, banyak pihak di kawasan mendorong agar krisis ini diselesaikan melalui diplomasi, bukan konfrontasi militer.

Meski situasi terlihat memanas, laporan menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Iran masih membuka peluang untuk kembali berunding. Kedua pihak dikabarkan tetap berkomunikasi melalui mediator, dengan harapan dapat menemukan titik temu jika masing-masing menunjukkan fleksibilitas.

Di tengah ketidakpastian ini, dunia kini menanti: apakah jalur diplomasi akan kembali diutamakan, atau justru konflik akan semakin meluas?

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru