Pakistan Dorong Dialog AS–Iran Berlanjut, Negosiasi Nuklir Masih Jadi Sorotan


 Pakistan Dorong Dialog AS–Iran Berlanjut, Negosiasi Nuklir Masih Jadi Sorotan Orang-orang berjalan melewati pusat pers untuk pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, Sabtu (114/2026). ANTARA/Xinhua/Wang Shen/aa.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pakistan menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Iran masih membuka pintu untuk dialog lanjutan, meski belum ada kesepakatan konkret dari pembicaraan sebelumnya.

Kementerian Luar Negeri Pakistan meminta publik untuk tidak berspekulasi terkait kemungkinan pertemuan lanjutan kedua negara di Islamabad. Hal ini disampaikan langsung oleh juru bicara Kemlu Pakistan, Tahir Andrabi, dalam konferensi pers di Islamabad, Kamis (16/4/2026).

Menurut Andrabi, detail mengenai delegasi dari masing-masing negara merupakan urusan internal yang tidak perlu diperdebatkan di ruang publik. Fokus utama saat ini adalah menjaga momentum dialog tetap berjalan.

Ia juga menegaskan bahwa program nuklir Iran masih menjadi isu sentral dalam proses negosiasi yang tengah berlangsung. Meski begitu, ia menggambarkan pembicaraan tersebut berlangsung secara serius dan konstruktif.

“Tidak ada terobosan, tetapi juga tidak ada kebuntuan,” ujarnya, menandakan bahwa komunikasi antara kedua pihak masih terbuka.

Pernyataan ini muncul setelah perundingan maraton selama 16 jam antara Amerika Serikat dan Iran pada akhir pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan dikutip Antara.

Di tengah situasi tersebut, Pakistan terus meningkatkan perannya sebagai mediator. Perdana Menteri Shehbaz Sharif bahkan tengah melakukan kunjungan diplomatik ke sejumlah negara di kawasan, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Turki.

Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, melakukan kunjungan ke Iran untuk berdialog langsung dengan para pemimpin negara tersebut.

Langkah ini menegaskan posisi Pakistan sebagai salah satu aktor penting dalam upaya meredakan ketegangan kawasan. Sebelumnya, Pakistan juga berhasil memediasi gencatan senjata selama 14 hari yang dimulai pada 8 April lalu.

Tak hanya fokus pada hubungan AS–Iran, Pakistan juga menyoroti dinamika konflik di kawasan lain. Andrabi mengutuk serangan Israel di Lebanon dan menyebut situasi tersebut sebagai bagian dari kompleksitas negosiasi regional yang lebih luas.

Meski demikian, ia melihat adanya “tanda-tanda perbaikan” di wilayah konflik Israel-Lebanon sebagai perkembangan positif.

Menurutnya, upaya deeskalasi sangat penting untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi dialog dan perdamaian jangka panjang.

“Deeskalasi akan membantu membuka ruang bagi proses diplomasi yang lebih efektif,” katanya.

Dengan berbagai upaya yang terus dilakukan, Pakistan berharap jalur diplomasi tetap menjadi pilihan utama dalam meredakan ketegangan dan menjaga stabilitas kawasan.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru