PM Greenland Khawatir Jadi Target AS, Ketegangan Geopolitik Kian Memanas


 PM Greenland Khawatir Jadi Target AS, Ketegangan Geopolitik Kian Memanas Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen. (Foto: FB Jens-Frederik Nielsen)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan geopolitik kembali memanas di kawasan Arktik. Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, mengungkap kekhawatiran bahwa wilayahnya bisa menjadi target berikutnya Amerika Serikat, di tengah kembali mencuatnya ambisi Presiden Donald Trump untuk menguasai pulau tersebut.

Dalam wawancara dengan NBC, Nielsen menyebut kekhawatiran itu bukan hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Banyak warga berpikir, ‘kami mungkin berikutnya.’ Dan bukan hanya kami, negara lain juga melihat hal yang sama. Ini sangat disayangkan,” ujarnya.

Rasa Tak Aman hingga Kemarahan Warga

Isu pengambilalihan Greenland ternyata berdampak nyata pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Nielsen mengungkapkan bahwa situasi ini memicu rasa tidak aman yang meluas.

Sebagian warga bahkan mulai mengubah rutinitas mereka—mulai dari ragu meninggalkan anak di taman kanak-kanak hingga membatalkan berbagai acara sosial.

“Banyak orang merasa takut. Tapi sekarang, perasaan itu mulai berubah menjadi kemarahan,” kata Nielsen.

Fenomena ini sejalan dengan laporan sebelumnya yang menyebut tekanan dari AS telah menimbulkan dampak psikologis bagi warga Greenland dan meningkatkan ketidakpastian sosial.

Greenland Tegas: Tidak untuk Dijual

Di tengah meningkatnya tekanan, pemerintah Greenland menegaskan sikapnya: wilayah mereka tidak akan diserahkan kepada kekuatan asing mana pun.

Nielsen menegaskan bahwa Greenland siap menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk jika terjadi ancaman terhadap infrastruktur vital.

Sikap ini juga didukung penuh oleh pemerintah Denmark. Keduanya kompak menyatakan bahwa Greenland adalah bagian dari Kerajaan Denmark dan “tidak untuk dijual”

Ambisi Lama AS dan Nilai Strategis Greenland

Ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland bukan hal baru. Secara strategis, wilayah ini memiliki nilai tinggi—baik dari sisi militer, jalur Arktik, hingga sumber daya alam.

Dalam beberapa waktu terakhir, Trump kembali menegaskan keinginannya untuk menguasai Greenland dengan alasan keamanan nasional, termasuk untuk menghadapi pengaruh Rusia dan China di kawasan tersebut.

Bahkan, tekanan diplomatik hingga wacana penggunaan kekuatan militer sempat mencuat, memicu kekhawatiran di antara sekutu NATO.

Ketidakpastian Peran NATO

Meski Greenland berada dalam lingkup pertahanan NATO melalui Denmark, Nielsen mengaku belum yakin apakah aliansi tersebut akan benar-benar bertindak jika konflik terjadi.

“Saya tidak tahu apakah NATO akan membela kami melawan sekutu lain. Ini situasi yang rumit, karena kami semua masih bagian dari aliansi yang sama,” ujarnya dikutip Antara.

Ketidakpastian ini semakin mempertegas kompleksitas konflik yang melibatkan kepentingan global.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru