Loading
Trump mengumumkan Israel dan Lebanon akan memulai perundingan langsung pertama dalam 34 tahun. (whitehouse.gov)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Harapan baru muncul di tengah konflik berkepanjangan Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa pemimpin Israel dan Lebanon akan memulai perundingan langsung pada Kamis (16/4/2026).
Jika benar terjadi, ini akan menjadi momen bersejarah. Pasalnya, kedua negara disebut sudah lebih dari tiga dekade tidak melakukan komunikasi langsung di level kepemimpinan.
Trump menyampaikan kabar tersebut melalui platform Truth Social pada Rabu malam. Ia menyebut pertemuan ini sebagai langkah awal untuk “memberi ruang bernapas” di tengah ketegangan yang terus meningkat antara Israel dan Lebanon.
“Sudah sangat lama sejak kedua pemimpin itu berbicara, sekitar 34 tahun. Dan itu akan terjadi besok,” tulis Trump.
Diplomasi Dimulai dari Washington
Sinyal perundingan ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal pekan. Pada Selasa (14/4/2026), pertemuan penting digelar di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.
Pertemuan tersebut mempertemukan:
Pertemuan ini difasilitasi langsung oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dan dihadiri sejumlah pejabat penting, termasuk:
Namun, satu pihak yang tidak hadir adalah kelompok Hizbullah, yang selama ini menjadi aktor utama dalam konflik bersenjata di perbatasan Israel–Lebanon.
Tekanan AS dan Situasi yang Memanas
Sebelumnya, Trump juga mengungkap bahwa dirinya telah meminta Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk mengurangi intensitas serangan ke wilayah Lebanon.
Menurut Trump, Israel memberikan sinyal akan mulai “mengurangi” operasi militernya.
Namun di lapangan, situasi masih jauh dari tenang dikutip Antara.
Israel dilaporkan terus melakukan serangan di wilayah Lebanon selatan sejak serangan lintas batas oleh Hizbullah pada 2 Maret 2026. Padahal, kedua pihak sebenarnya telah menyepakati gencatan senjata sejak November 2024.
Korban Terus Bertambah
Konflik yang kembali memanas ini telah menimbulkan dampak besar bagi warga sipil.
Otoritas kesehatan Lebanon melaporkan:
Angka ini menunjukkan betapa mendesaknya upaya diplomasi untuk menghentikan eskalasi konflik.
Harapan Baru atau Sekadar Sinyal Politik?
Rencana perundingan ini membuka peluang baru bagi stabilitas kawasan. Namun, banyak pihak masih mempertanyakan sejauh mana komitmen kedua negara untuk benar-benar menahan diri.
Tanpa keterlibatan semua pihak terkait—termasuk Hizbullah—proses damai diprediksi tidak akan berjalan mudah.
Meski begitu, pertemuan ini tetap menjadi langkah penting yang bisa menentukan arah konflik ke depan: menuju perdamaian, atau justru sebaliknya.