Menlu Kamboja dan Thailand Bertemu di Brunei, Bahas Perbatasan dan Perdamaian ASEAN


 Menlu Kamboja dan Thailand Bertemu di Brunei, Bahas Perbatasan dan Perdamaian ASEAN Menteri Luar Negeri China Wang Yi (tengah), Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow (kanan) dan Menteri Luar Negeri Kamboja Prak Sokhonn bertemu di Provinsi Yunnan, China, Senin (29/4/2025). ANTARA/Xinhua/Wang Guansen.

PHNOM PENH, ARAHKITA.COM – Upaya meredakan ketegangan kembali dilakukan oleh Kamboja dan Thailand. Di sela forum internasional di Brunei Darussalam, kedua negara membuka ruang dialog untuk membahas isu sensitif terkait perbatasan.

Menteri Luar Negeri Kamboja, Prak Sokhonn, bertemu dengan mitranya dari Thailand, Sihasak Phuangketkeow, dalam rangkaian Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN-Uni Eropa ke-25 di Brunei Darussalam.

Pertemuan yang berlangsung pada Senin (27/4/2026) itu menjadi momen penting untuk membahas situasi terkini di wilayah perbatasan kedua negara. Tidak hanya itu, diskusi juga mencakup langkah-langkah membangun kepercayaan serta penguatan hubungan diplomatik yang lebih luas.

Dalam pernyataannya, Sokhonn menegaskan bahwa perdamaian tidak bisa dicapai secara instan. Dibutuhkan komitmen nyata dari kedua pihak, termasuk penghormatan terhadap hukum internasional, Piagam ASEAN, serta berbagai kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya.

Menurutnya, stabilitas hubungan Kamboja dan Thailand tidak hanya penting bagi kedua negara, tetapi juga memiliki dampak besar terhadap kawasan. Perdamaian bilateral dinilai menjadi salah satu fondasi bagi terciptanya stabilitas dan persatuan di lingkungan ASEAN dikutip Antara.

Langkah dialog ini menjadi kelanjutan dari kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada 27 Desember 2025. Sebelumnya, kedua negara sempat terlibat konflik bersenjata selama sekitar tiga pekan yang menimbulkan korban di kedua belah pihak.

Kini, melalui jalur diplomasi, Kamboja dan Thailand berupaya memastikan konflik serupa tidak terulang. Pendekatan dialog terbuka dan saling menghormati menjadi kunci untuk menjaga hubungan tetap kondusif di tengah dinamika kawasan.

Pertemuan di Brunei ini sekaligus menegaskan bahwa diplomasi tetap menjadi jalan utama dalam menyelesaikan sengketa antarnegara di Asia Tenggara—sebuah pesan penting bagi masa depan stabilitas regional.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru