Ekonomi Jerman Tertekan, Friedrich Merz Umumkan Paket Reformasi Menyeluruh


 Ekonomi Jerman Tertekan, Friedrich Merz Umumkan Paket Reformasi Menyeluruh Kanselir Jerman Friedrich Merz saat menyampaikan konferensi pers di Kantor Kanselir di Berlin, Jerman, pada Kamis (9/4/2026). (ANTARA/Anadolu Agency)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah Jerman tengah menyiapkan langkah besar untuk membangkitkan kembali perekonomian nasional yang menghadapi berbagai tekanan. Kanselir Friedrich Merz mengumumkan rencana reformasi menyeluruh yang ditujukan untuk mengatasi berkurangnya lapangan kerja di sektor industri serta meningkatnya beban yang ditanggung pelaku usaha.

Dalam pidatonya di hadapan parlemen Jerman (Bundestag) pada Kamis (11/6/2026), Merz menyampaikan bahwa pemerintah federal sedang merancang paket reformasi yang akan dipresentasikan dalam beberapa pekan hingga beberapa bulan ke depan.

Menurutnya, reformasi tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat daya saing ekonomi Jerman yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan serius.

"Tujuan kami adalah merampungkan dan mempresentasikan usulan reformasi besar dalam beberapa pekan dan beberapa bulan mendatang. Ini akan menjadi usulan bersama pemerintah federal," ujar Merz.

Industri Tertekan, Lapangan Kerja Berkurang

Merz menyoroti kondisi sektor industri yang terus kehilangan tenaga kerja. Sejumlah perusahaan juga dilaporkan mengalami kesulitan akibat tingginya biaya operasional serta prosedur birokrasi yang dinilai terlalu rumit.

Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi daya saing Jerman sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Eropa.

Karena itu, pemerintah berupaya menghadirkan kebijakan yang mampu mendorong investasi, mempertahankan industri, dan menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif.

Tolak Penambahan Utang Baru Uni Eropa

Selain membahas reformasi ekonomi domestik, Merz juga menegaskan sikapnya terhadap kebijakan fiskal Uni Eropa. Ia menolak gagasan penambahan utang baru di tingkat regional karena dinilai berpotensi membebani generasi mendatang.

Menurut Merz, tingginya utang publik dapat mengurangi fleksibilitas pemerintah dalam mengelola anggaran dan berisiko mengganggu stabilitas ekonomi jangka panjang.

Ia mencontohkan beberapa negara Eropa yang saat ini harus mengalokasikan dana lebih besar untuk membayar bunga utang dibandingkan membiayai sektor pertahanan.

"Beberapa negara Eropa, karena beban utang yang sangat besar, kini menghabiskan lebih banyak dana untuk membayar bunga utang dibandingkan untuk pertahanan. Kita tidak boleh membiarkan anggaran Eropa mencapai kondisi seperti itu," katanya.

Tetap Dukung Bantuan untuk Ukraina

Meski mengingatkan bahaya peningkatan utang, Merz tetap mendukung bantuan finansial Uni Eropa kepada Ukraina.

Ia menyebut pinjaman Uni Eropa senilai 90 miliar euro atau sekitar Rp1,8 kuadriliun untuk Ukraina telah memperoleh persetujuan.Pernyataan tersebut memicu beragam respons di dalam ruang sidang Bundestag. Sejumlah anggota parlemen terdengar menyampaikan keberatan dan kritik saat pidato berlangsung dikutip Antara.

IMF Ingatkan Risiko Utang Eropa

Sementara itu, perhatian terhadap persoalan utang publik di Eropa juga datang dari Dana Moneter Internasional (IMF). Dalam laporan yang sebelumnya dikutip media Politico, IMF memperingatkan bahwa peningkatan utang negara-negara anggota Uni Eropa dapat menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi kawasan.

Berdasarkan proyeksi IMF, apabila kebijakan fiskal saat ini terus dipertahankan, rata-rata utang negara-negara Eropa berpotensi mencapai 130 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2040. Angka tersebut diperkirakan hampir dua kali lipat dibandingkan tingkat utang saat ini.

Peringatan tersebut memperkuat perdebatan yang sedang berlangsung di Eropa mengenai keseimbangan antara kebutuhan pembiayaan pembangunan, pertahanan, dan stabilitas fiskal jangka panjang.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru