Spanyol Terancam Catat Hari Terpanas dalam Sejarah Juni, Suhu Tembus 44 Derajat Celsius


 Spanyol Terancam Catat Hari Terpanas dalam Sejarah Juni, Suhu Tembus 44 Derajat Celsius Gelombang panas mendorong orang-orang mencari cara mendinginkan diri di Granada, Spanyol, 20 Juni 2026. (Anadolu/py.)

MADRID, ARAHKITA.COM – Spanyol bersiap menghadapi salah satu hari terpanas dalam sejarah pengamatan cuaca pada bulan Juni. Para ahli meteorologi memperingatkan bahwa suhu udara di sejumlah wilayah negara itu dapat melampaui 40 derajat Celsius, bahkan mencapai 44 derajat Celsius.

Badan Meteorologi Spanyol (AEMET) telah mengeluarkan peringatan tingkat tertinggi untuk beberapa wilayah, termasuk Andalusia, Wilayah Basque, dan Cantabria. Kondisi cuaca ekstrem ini dipicu oleh fenomena kubah panas (heat dome) yang saat ini menyelimuti sebagian besar Eropa Barat.

Menurut perkiraan, sekitar 17 dari 50 ibu kota provinsi di Spanyol akan mengalami suhu di atas 40 derajat Celsius. Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat terganggu dan meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.

Tidak hanya siang hari yang terasa menyengat, malam hari pun diperkirakan tetap panas. Fenomena yang dikenal sebagai malam tropis diprediksi terjadi secara luas, yaitu ketika suhu tidak turun di bawah 20 derajat Celsius. Akibatnya, bangunan dan permukiman kesulitan melepaskan panas yang tersimpan sepanjang hari.

Meteorolog RTVE, Marc Santandreu, menyebut Selasa berpotensi menjadi hari terpanas yang pernah tercatat pada bulan Juni di Spanyol.

“Selasa bisa menjadi hari terpanas yang pernah tercatat pada Juni dan mendekati rekor hari terpanas sepanjang sejarah,” ujarnya.

Gelombang panas yang mulai melanda sejak Minggu lalu telah memecahkan sejumlah rekor suhu di berbagai wilayah.

AEMET mencatat beberapa daerah di tenggara Spanyol mengalami suhu malam hari di atas 30 derajat Celsius selama tiga hari berturut-turut. Fenomena seperti ini belum pernah tercatat sebelumnya pada bulan Juni di kawasan Semenanjung Iberia.

Sementara itu, Kota Palma de Mallorca juga mencatat malam terpanas sepanjang sejarah pengamatan cuaca untuk bulan Juni.

Udara Panas Sahara Jadi Pemicu

Para ahli menjelaskan bahwa cuaca ekstrem ini terjadi akibat kombinasi kubah panas dan masuknya massa udara sangat panas serta kering dari Gurun Sahara yang bergerak ke arah utara.

Menurut AEMET, sistem tekanan tinggi yang berada di daratan Eropa berpadu dengan sistem tekanan rendah di sebelah barat Semenanjung Iberia. Kombinasi tersebut mendorong udara panas dari Afrika Utara masuk ke wilayah Spanyol dan negara-negara Eropa lainnya.

Selain itu, intensitas sinar matahari yang sedang berada pada puncak musim panas turut memperkuat kenaikan suhu sehingga panas diperkirakan bertahan setidaknya hingga pertengahan pekan.

Perubahan Iklim Perbesar Risiko Gelombang Panas

Analisis Climate Shift Index menunjukkan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan kemungkinan terjadinya gelombang panas ekstrem seperti yang saat ini melanda Spanyol hingga setidaknya lima kali lebih besar dibandingkan kondisi tanpa pemanasan global dikutip Antara.

Fenomena ini menjadi salah satu indikasi meningkatnya frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem yang kini semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia.

Tidak hanya Spanyol, sejumlah negara Eropa lainnya seperti Prancis, Italia, Swiss, Luksemburg, Belanda, dan Inggris juga telah mengeluarkan peringatan cuaca panas tingkat tinggi karena menghadapi kondisi serupa.

Para ahli mengingatkan masyarakat untuk membatasi aktivitas luar ruangan pada siang hari, memperbanyak konsumsi air, serta mewaspadai dampak kesehatan akibat suhu ekstrem yang terus meningkat di kawasan Eropa.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru