Loading
Ilustrasi GERD ANTARAShutterstockOrawan Pattarawimonchai
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Orang tua perlu mewaspadai keluhan nyeri dada yang dialami anak, terutama jika terjadi berulang. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut kondisi tersebut dapat menjadi salah satu tanda anak mengalami Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), yakni gangguan pencernaan akibat naiknya asam lambung ke kerongkongan.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi IDAI, Sri Kesuma Astuti, menjelaskan bahwa gejala GERD pada anak yang lebih besar dan remaja memiliki karakteristik yang cukup khas.
“Pada anak yang lebih besar, apa gejala tipikal GERD? Gejala tipikal GERD pada anak itu adalah kalau ada nyeri dada atau chest pain,” kata Sri Kesuma Astuti dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Menurut Sri, nyeri dada akibat GERD umumnya dirasakan tepat di bawah tulang dada. Keluhan tersebut sering disertai sensasi panas atau terbakar yang menjalar hingga area ulu hati.
Gejala biasanya semakin terasa setelah anak makan atau ketika berbaring. Karena itu, kondisi ini kerap disalahartikan sebagai gangguan kesehatan lain jika tidak diperiksa secara menyeluruh.
“Nyeri dada di bagian bawah tulang dada dapat menimbulkan sensasi terbakar dan terasa dekat dengan ulu hati,” jelasnya.
Sri mengungkapkan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa GERD pada anak dan remaja sering berkaitan dengan pola makan yang kurang sehat. Beberapa kebiasaan yang meningkatkan risiko antara lain makan dalam porsi berlebihan, makan menjelang waktu tidur, serta sering mengonsumsi minuman bersoda dan makanan pedas maupun berlemak.
Untuk mengurangi risiko refluks asam lambung, ia menyarankan anak menghentikan aktivitas makan setidaknya tiga jam sebelum tidur.
“Saluran pencernaan membutuhkan waktu untuk bekerja secara optimal sehingga lebih baik tidak makan menjelang waktu tidur,” ujarnya.
IDAI juga mengingatkan bahwa ada beberapa kelompok anak yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami GERD. Di antaranya anak dengan gangguan neurologis, atresia esofagus, hernia diafragmatika, obesitas, penyakit paru kronis, laringomalasia, serta trakeomalasia.
Pada kelompok ini, pemantauan kondisi kesehatan pencernaan perlu dilakukan lebih intensif untuk mencegah komplikasi yang dapat memengaruhi kualitas hidup anak.
Dalam menangani GERD, tenaga medis biasanya melakukan evaluasi menyeluruh mulai dari wawancara medis (anamnesis), pemeriksaan fisik, hingga identifikasi tanda bahaya guna menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.
Selain itu, penanganan awal umumnya meliputi perubahan gaya hidup dan pola makan, serta pemberian obat penekan produksi asam lambung jika diperlukan.
Apabila gejala tidak kunjung membaik, pasien dapat dirujuk ke dokter spesialis anak konsultan gastroenterologi untuk menjalani pemeriksaan lanjutan seperti endoskopi dan pemantauan pH esofagus.
Pada kasus tertentu, terapi dapat dilanjutkan dengan pengobatan khusus, metode pemberian nutrisi tertentu, hingga tindakan operasi anti-refluks sesuai kondisi pasien.
GERD pada anak sering kali tidak disadari karena gejalanya dianggap sebagai keluhan pencernaan biasa. Padahal, jika berlangsung dalam jangka panjang tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas, kualitas tidur, hingga pertumbuhan anak.
Karena itu, orang tua dianjurkan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila anak sering mengeluhkan nyeri dada, sensasi panas di ulu hati, atau keluhan pencernaan yang berulang.