Trump Sebut Dialog AS-Iran Ditunda Selama Pemakaman Khamenei, Klaim Teheran Ingin Berdamai


 Trump Sebut Dialog AS-Iran Ditunda Selama Pemakaman Khamenei, Klaim Teheran Ingin Berdamai Presiden AS Donald Trump berjalan menuju halaman selatan Gedung Putih di Washington, DC, Amerika Serikat, Jumat (1/5/2026). (ANTARA/Xinhua/Li Yuanqin/aa.)

HAMILTON, KANADA, ARAHKITA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran untuk sementara ditunda hingga proses pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, selesai.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menghadiri perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat atau America 250 di Mount Rushmore, South Dakota, Jumat (3/7/2026).

Dalam pidatonya, Trump menegaskan bahwa Iran disebut sangat menginginkan tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat. Namun, menurutnya, proses dialog sengaja ditunda sebagai bentuk penghormatan terhadap masa berkabung di Iran.

"Iran benar-benar ingin membuat kesepakatan dengan kami, tetapi pembicaraan ditunda selama proses pemakaman Khamenei," ujar Trump.

Trump Banggakan Kekuatan Militer AS

Selain membahas hubungan dengan Iran, Trump juga memanfaatkan momentum perayaan America 250 untuk menyoroti kekuatan militer Amerika Serikat.

Ia mengatakan negaranya memiliki militer paling kuat dan dominan di dunia serta mengklaim Amerika keluar sebagai pemenang dalam dua perang dunia. Trump juga menyebut berakhirnya Perang Dingin sebagai bukti keunggulan Amerika atas para rivalnya.

Klaim Iran Memohon Perdamaian

Dalam pidatonya, Trump turut menyinggung sejumlah isu geopolitik terbaru. Ia mengklaim Amerika mampu melumpuhkan Iran hingga akhirnya negara tersebut menginginkan perdamaian.

"Kami melumpuhkan Iran hingga mereka memohon perdamaian. Mereka benar-benar menginginkan perdamaian. Kami bahkan memberi mereka waktu satu minggu untuk berkabung," katanya.

Pernyataan tersebut merupakan bagian dari pidato yang menonjolkan posisi Amerika dalam berbagai konflik internasional.

Sebut Amerika Republik Tertua dan Paling Bebas

Trump juga memuji perjalanan panjang Amerika Serikat yang telah memasuki usia ke-250 tahun.

Menurutnya, Amerika merupakan republik tertua di dunia dengan tingkat kebebasan yang paling tinggi serta memiliki konstitusi yang paling adil dan bertahan sepanjang sejarah.

Ia juga menyampaikan klaim bahwa masyarakat Amerika telah memberikan kontribusi besar bagi dunia, mulai dari kegiatan kemanusiaan, penanganan kelaparan, hingga kemajuan di bidang kesehatan.

Soroti Ancaman Komunisme dan Politik Dalam Negeri

Dalam bagian lain pidatonya, Trump mengingatkan adanya ancaman ideologi komunisme yang menurutnya kembali muncul di Amerika Serikat.

Ia menilai ancaman tersebut datang dari sebagian pendatang baru yang membawa nilai-nilai yang dianggap bertentangan dengan prinsip kehidupan Amerika.

Trump bahkan menyebut komunisme sebagai ancaman yang lebih berbahaya dibanding sejumlah peristiwa besar dalam sejarah Amerika, termasuk Perang Dunia, serangan Pearl Harbor, hingga tragedi 11 September 2001.

"Amerika tidak akan pernah menjadi negara komunis," tegasnya dikutip Antara.

Menjelang pemilihan paruh waktu, Trump juga menyinggung dinamika politik domestik. Ia mengatakan Partai Republik hanya akan kalah apabila membiarkan dirinya kalah.

Menurut Trump, perubahan aturan filibuster serta pengesahan rancangan "Undang-Undang Selamatkan Amerika" akan memperkuat posisi Partai Republik dalam berbagai pemilihan mendatang.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru