Pidato America 250, Trump Soroti Iran, Komunisme, dan Kekuatan Amerika Serikat


 Pidato America 250, Trump Soroti Iran, Komunisme, dan Kekuatan Amerika Serikat Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Net)

HAMILTON, ARAHKITA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato bernada tegas dalam perayaan America 250 yang digelar di Mount Rushmore, South Dakota, Jumat (3/7/2026) waktu setempat. Dalam pidato tersebut, Trump menyoroti berbagai isu mulai dari hubungan Amerika Serikat dengan Iran, kekuatan militer, hingga ancaman komunisme dan politik domestik menjelang pemilu sela.

Trump mengatakan Iran kini ingin segera mencapai kesepakatan dengan Washington. Menurutnya, pemerintah Amerika Serikat sempat menunda proses perundingan sebagai bentuk penghormatan terhadap prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang berlangsung di negara tersebut.

"Kami memberi mereka waktu libur selama sepekan untuk pemakaman karena kami bersikap baik," kata Trump.

Dalam kesempatan itu, Trump juga kembali menonjolkan kekuatan militer Amerika Serikat. Ia menyebut negaranya memiliki militer paling kuat di dunia dan mengingatkan bahwa Amerika pernah memenangkan dua perang dunia.

"Kami membangun militer yang paling kuat dan paling tangguh. Kami memenangkan dua perang dunia," ujarnya.

Trump turut mengeklaim bahwa berakhirnya Perang Dingin membuat para musuh Amerika "tenggelam dalam sejarah". Ia bahkan mengungkit sejumlah konflik internasional dengan menyatakan bahwa Amerika berhasil mengatasi Venezuela dalam waktu singkat dan memberikan tekanan besar terhadap Iran.

Menurut Trump, kondisi tersebut membuat Teheran kini lebih terbuka untuk mencapai perdamaian dengan Amerika Serikat.

America 250 Jadi Momentum Kebanggaan Nasional

Dalam pidatonya, Trump memuji perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat sebagai momentum penting untuk mengingat perjalanan panjang negaranya.

Ia menyebut Amerika sebagai republik tertua di dunia sekaligus negara paling bebas dengan konstitusi yang dinilainya paling adil dan bertahan lama.

Trump juga mengeklaim bahwa tidak ada negara lain yang memberikan bantuan kemanusiaan lebih besar, mengatasi kelaparan lebih banyak, maupun berkontribusi lebih besar terhadap penemuan pengobatan dibandingkan Amerika Serikat.

Trump Sebut Komunisme Ancaman Terbesar

Bagian lain pidato Trump menyoroti isu ideologi. Ia memperingatkan bahwa komunisme kembali menjadi ancaman yang menurutnya mulai muncul di Amerika Serikat.

Trump mengatakan sebagian pendatang baru membawa gagasan yang dinilainya bertentangan dengan nilai-nilai dan cara hidup masyarakat Amerika.

"Komunisme adalah ancaman terbesar bagi negara kita," kata Trump dilansir Antara.

Ia bahkan menyebut ancaman komunisme lebih besar dibandingkan Perang Dunia I, Perang Dunia II, serangan Pearl Harbor, maupun tragedi 11 September.

Trump kemudian menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah menjadi negara komunis.

Singgung Pemilu dan Aturan Filibuster

Menjelang akhir pidato, Trump beralih membahas politik dalam negeri. Ia mengatakan Partai Republik hanya akan kalah dalam pemilu sela apabila membiarkan kekalahan itu terjadi.

Trump juga menilai penghapusan aturan filibuster di Senat serta pengesahan Save America Act akan memperkuat posisi Partai Republik dalam pemilu mendatang.

Filibuster merupakan mekanisme di Senat Amerika Serikat yang memungkinkan seorang senator memperpanjang perdebatan untuk menunda atau menggagalkan pengesahan suatu rancangan undang-undang.

Karena debat di Senat tidak memiliki batas waktu, seorang senator dapat terus berbicara sehingga proses legislasi tidak dapat dilanjutkan.

Untuk menghentikan filibuster diperlukan prosedur yang dikenal sebagai cloture, yakni mosi untuk mengakhiri perdebatan. Berdasarkan aturan Senat AS saat ini, cloture hanya dapat disetujui apabila memperoleh dukungan sedikitnya 60 dari total 100 senator.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru