Trump Klaim Jadi Target Pembunuhan Nomor Satu Iran, Ungkap Risiko Tewas 5,2 Persen


 Trump Klaim Jadi Target Pembunuhan Nomor Satu Iran, Ungkap Risiko Tewas 5,2 Persen Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. /ANTARA/Anadolu/py. (Anadolu)

WASHINGTON, ARAHKITA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan yang mengundang perhatian dunia. Dalam konferensi pers di Ankara, Rabu (8/7/2026), Trump mengaku yakin dirinya merupakan target pembunuhan nomor satu yang diincar Iran.

Meski mengakui ancaman tersebut, Trump menegaskan dirinya tidak gentar. Menurutnya, risiko tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai Presiden Amerika Serikat.

"Saya juga bisa saja tiada, karena saya adalah target nomor satu mereka," kata Trump.

Trump mengatakan dirinya tidak terlalu memikirkan ancaman pembunuhan tersebut. Ia menilai apa yang dilakukannya hanyalah menjalankan tugas sebagai kepala negara.

Dalam kesempatan itu, Trump juga mengungkapkan angka yang menurutnya menggambarkan besarnya risiko yang dihadapi seorang presiden.

"Peluang saya untuk dibunuh adalah 5,2 persen. Kehidupan presiden sangat berbahaya. Bandingkan dengan pembalap mobil atau penunggang banteng yang risikonya hanya sepersepuluh dari satu persen. Angka 5,2 persen bagi presiden berarti Anda terancam tidak selamat," ujarnya.

Tiga Kali Lolos dari Upaya Pembunuhan

Trump diketahui telah beberapa kali menjadi sasaran percobaan pembunuhan.

Peristiwa pertama terjadi saat kampanye di Pennsylvania pada Juli 2024. Dalam insiden itu, Trump tertembak di bagian telinga, namun berhasil selamat.

Upaya kedua terjadi pada September 2024 ketika seorang tersangka diduga mencoba menyerangnya di klub golf milik Trump di Florida.

Sementara itu, insiden ketiga terjadi pada April 2026 saat Trump menghadiri jamuan makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih. Setelah kejadian tersebut, tersangka didakwa atas sejumlah tuduhan, termasuk percobaan pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat dikutip Antara.

Tak lama kemudian, pada Juni 2026, Biro Investigasi Federal (FBI) mengungkap adanya rencana yang menargetkan sebuah acara UFC di Gedung Putih yang dijadwalkan dihadiri Trump. Departemen Kehakiman Amerika Serikat kemudian menyatakan rencana tersebut sebagai dugaan upaya pembunuhan terbaru terhadap presiden.

Pernyataan Trump mengenai Iran sebagai pihak yang paling mengincarnya kembali memicu perhatian internasional, terutama di tengah hubungan yang masih tegang antara Washington dan Teheran.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru