Arsip - Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar. (Anadolu/as)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah aksi saling serang yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Situasi ini memicu kekhawatiran berbagai negara karena berpotensi mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah. Pakistan pun angkat bicara dengan mendesak kedua pihak agar menahan diri dan mengutamakan jalur diplomasi demi mencegah konflik yang lebih luas.
Melalui pernyataan resmi yang disampaikan pada Rabu (8/7/2026), Kementerian Luar Negeri Pakistan menegaskan bahwa konflik yang kembali memanas tidak akan memberikan keuntungan bagi siapa pun.
"Konflik yang kembali memanas bukan keuntungan bagi siapa pun," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Pakistan yang juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan di kawasan.
Pemerintah Pakistan menyerukan agar semua pihak menghindari langkah-langkah yang dapat memperburuk situasi dan mengancam perdamaian regional.
Menurut Islamabad, dialog dan diplomasi tetap menjadi satu-satunya jalan untuk menyelesaikan perselisihan.
Baca juga:
PBB Khawatir AS-Iran Kembali Memanas, Guterres: Konflik Bisa Gagalkan Diplomasi dan Guncang Dunia"Tidak ada alternatif selain keterlibatan, dialog, dan diplomasi yang berkelanjutan untuk mencapai tujuan bersama perdamaian di kawasan ini," tegas Kementerian Luar Negeri Pakistan dilansir Antara.
Pakistan juga mengingatkan pentingnya menghormati komitmen yang telah disepakati dalam Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad. Kesepakatan tersebut dinilai sebagai fondasi penting untuk membangun saling pengertian, rasa hormat, serta kemakmuran bersama di kawasan.
Baca juga:
Dokter di Jerman Divonis Seumur Hidup usai Bunuh 15 Pasien, Polisi Selidiki Puluhan Kasus LainSebelumnya, pada 17 Juni lalu, Amerika Serikat dan Iran menyepakati sebuah nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri konflik militer yang pecah setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Teheran pada Februari.
Selain menyerukan penyelesaian damai, Pakistan juga menyatakan kesiapannya untuk terus memainkan peran sebagai mediator apabila dibutuhkan.
Serangan Saling Balas Kembali Terjadi
Di tengah seruan damai tersebut, situasi di lapangan justru kembali memanas.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan telah meluncurkan serangan rudal dan drone yang menargetkan 85 lokasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Sasaran serangan disebut meliputi Pelabuhan Salman, markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain, serta Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait.
Serangan itu disebut sebagai respons setelah Komando Pusat Militer Amerika Serikat mengaku telah menghantam lebih dari 80 target di Iran. Washington menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
Meski demikian, Presiden AS, Donald Trump, pada Rabu menyatakan dirinya tidak yakin konflik dengan Iran akan berkembang menjadi perang baru.
Pernyataan tersebut sedikit meredakan kekhawatiran dunia, meski situasi keamanan di Timur Tengah masih terus menjadi perhatian masyarakat internasional.