Mojtaba Khamenei pemimpin tertinggi Iran profil Mojtaba Khamenei politik Iran. (Net)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa negaranya akan membalas kematian ayah sekaligus pendahulunya, Ali Khamenei, yang tewas dalam konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui sebuah pesan yang dibacakan dalam upacara pemakaman Ali Khamenei, sebagaimana dilaporkan penyiaran pemerintah Iran, IRIB. Pernyataan itu mempertegas bahwa Iran belum menganggap konflik telah berakhir meski sebelumnya sempat tercapai kesepahaman untuk menghentikan perang.
"Kami berjanji untuk membalas darah Anda yang tak berdosa serta seluruh para syuhada dalam dua perang ini dari para pembunuh yang kriminal dan tidak terhormat," demikian isi pesan Mojtaba Khamenei.
Baca juga:
Puluhan Ribu Warga Padati Pemakaman Ali Khamenei di Mashhad, Ketegangan Iran-AS Kembali MemanasAli Khamenei dimakamkan pada Kamis di Makam Imam Reza, Kota Mashhad, Iran timur laut. Prosesi tersebut menjadi penutup rangkaian upacara pemakaman yang berlangsung selama sepekan.
Sebelumnya, Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari. Serangan itu kemudian memicu aksi balasan dari Teheran sehingga memperluas eskalasi konflik di kawasan.
Di sisi lain, situasi semakin memanas setelah The Wall Street Journal melaporkan bahwa Israel membagikan informasi intelijen kepada Amerika Serikat yang menyebut Iran diduga tengah menyusun rencana baru untuk membunuh Presiden AS Donald Trump.
Menanggapi laporan tersebut, Trump melalui akun Truth Social pada Jumat mengancam akan meluncurkan ribuan rudal ke Iran apabila Teheran benar-benar mencoba melakukan pembunuhan terhadap dirinya dilansir Antara.
Baca juga:
Puluhan Ribu Warga Padati Pemakaman Ali Khamenei di Mashhad, Ketegangan Iran-AS Kembali MemanasPadahal, pada Juni lalu Iran dan Amerika Serikat sempat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri perang yang pecah sejak akhir Februari dan membuka jalan menuju perjanjian damai yang lebih permanen.
Kesepahaman itu mencakup penghentian pertempuran di seluruh front, pencabutan blokade laut Amerika Serikat terhadap Iran, serta pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, harapan perdamaian belum bertahan lama. Dalam beberapa hari terakhir, kedua negara kembali saling melancarkan serangan yang berkaitan dengan keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Amerika Serikat dilaporkan menyerang sejumlah target di Iran. Sebagai balasan, Teheran kembali menargetkan berbagai aset milik AS di kawasan, menandai bahwa ketegangan di Timur Tengah masih jauh dari mereda.