Harga Minyak Dunia Melonjak, Pelayaran di Selat Hormuz Kembali Tersendat akibat Konflik AS-Iran


 Harga Minyak Dunia Melonjak, Pelayaran di Selat Hormuz Kembali Tersendat akibat Konflik AS-Iran Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. (Anadolu Agency/pri)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengguncang pasar energi global. Dampaknya langsung terasa pada kenaikan harga minyak dunia sekaligus melambatnya aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.

Situasi ini memunculkan kembali kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Pelaku pasar dan perusahaan pelayaran mulai meningkatkan kewaspadaan karena risiko keamanan di kawasan Timur Tengah kembali membesar.

Harga minyak mentah Brent pada Minggu (12/7/2026) tercatat naik sekitar 3,5 persen hingga mendekati 79 dolar AS per barel, atau sekitar 9 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik terbaru terjadi.

Sementara itu, data perusahaan intelijen maritim Kpler menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali mengalami penurunan tajam. Pada Kamis (9/7/2026), hanya 22 kapal yang melintasi selat tersebut. Sebelum konflik meningkat, rata-rata lebih dari 130 kapal melintas setiap hari.

Eskalasi terbaru dipicu setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sekitar 140 sasaran di Iran sebagai respons atas serangan Teheran terhadap sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz.

Iran kemudian menyatakan telah membalas serangan tersebut dengan menyerang posisi Amerika Serikat di kawasan.

Kepala Riset Timur Tengah Kpler, Amena Bakr, mengatakan serangan terbaru telah mengikis kepercayaan perusahaan pelayaran komersial untuk kembali beroperasi secara normal di jalur tersebut.

"Kepercayaan itu terkikis sangat, sangat cepat. Kami kembali ke titik awal dalam situasi ini," ujarnya seperti dikutip The New York Times.

Sebelumnya, International Energy Agency dalam laporan terbarunya menyebut pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk setelah gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran sempat meningkatkan pasokan minyak global.

Namun, lembaga tersebut mengingatkan bahwa pemulihan yang lebih luas masih sangat bergantung pada meredanya konflik dalam waktu dekat. Selama ketegangan masih berlangsung, gangguan terhadap distribusi energi dunia tetap menjadi ancaman nyata.

Menurut Bakr, pasar energi memang mulai terbiasa menghadapi ketegangan yang berulang di kawasan Timur Tengah. Meski demikian, harga minyak saat ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan besarnya risiko geopolitik yang sedang berkembang.

"Pasar telah menyesuaikan diri dengan kondisi normal baru. Pergerakan harga belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya maupun tingkat risiko geopolitik," katanya dilansir Antara.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru