Ilustrasi masyarakat Prancis alami gelombang panas. /ANTARA/Anadolu/py.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Gelombang panas yang melanda Prancis kini tak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mengganggu sektor energi. Suhu udara yang terus meningkat membuat sejumlah sungai menjadi terlalu panas untuk digunakan sebagai sumber pendingin pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Akibatnya, operator listrik nasional Prancis terpaksa menghentikan operasi beberapa reaktor dan mengurangi produksi listrik di sejumlah fasilitas lainnya.
Perusahaan utilitas listrik Prancis, EDF, menghentikan operasi tiga reaktor nuklir serta menurunkan kapasitas produksi di delapan reaktor lainnya. Keputusan tersebut diambil sebagai respons terhadap gelombang panas ekstrem sekaligus untuk memenuhi ketentuan perlindungan lingkungan yang berlaku di negara tersebut.
Tiga reaktor yang dihentikan operasinya masing-masing adalah Reaktor Nomor 2 di PLTN Golfech yang berada di Sungai Garonne, Reaktor Nomor 3 di PLTN Bugey di Sungai Rhone, serta Reaktor Nomor 2 di PLTN Chooz di Sungai Meuse.
Selain itu, EDF juga mengurangi produksi listrik di sejumlah fasilitas nuklir lainnya, yakni PLTN Saint-Alban, Blayais, Bugey, Chooz, dan Tricastin.
Langkah tersebut dilakukan karena suhu air sungai yang digunakan sebagai pendingin reaktor telah melampaui batas aman. Berdasarkan regulasi lingkungan di Prancis, operator PLTN wajib mengurangi atau menghentikan operasi reaktor apabila suhu air sungai terlalu tinggi, guna mencegah dampak buruk terhadap ekosistem perairan.
Gelombang panas yang melanda Prancis dalam beberapa pekan terakhir membuat suhu sungai meningkat hingga mencapai tingkat kritis. Kondisi inilah yang memaksa EDF mengambil langkah antisipatif meski berdampak pada pasokan listrik nasional dikutip Antara.
Fenomena cuaca ekstrem tidak hanya terjadi di Prancis. Sejumlah negara Eropa juga mengalami musim panas yang jauh lebih panas dibandingkan biasanya.
Pada akhir Juni lalu, badan meteorologi Prancis bahkan mengeluarkan peringatan cuaca tingkat tertinggi di 72 dari 96 wilayah administratif. Jumlah tersebut menjadi rekor baru dalam sejarah peringatan cuaca di negara itu.
Saat itu, suhu udara di berbagai wilayah mendekati 40 derajat Celsius, bahkan di beberapa daerah tercatat melampaui angka tersebut. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikasi semakin nyata dampak perubahan iklim yang kini mulai memengaruhi berbagai sektor strategis, termasuk ketahanan energi.