Senin, 07 September 2026

Disney Kembali PHK Ratusan Karyawan, Pixar dan ESPN Ikut Terdampak


 Disney Kembali PHK Ratusan Karyawan, Pixar dan ESPN Ikut Terdampak Seorang pria berjalan melewati toko Disney yang ditutup dengan papan di Times Square, New York, Amerika Serikat, (20/1/2021). (Xinhua/Wang Ying)

LOS ANGELES, ARAHKITA.COM – The Walt Disney Company kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan karyawan sebagai bagian dari strategi efisiensi dan pengendalian biaya perusahaan. Langkah ini menjadi gelombang PHK ketiga yang dilakukan Disney sepanjang 2026.

PHK diumumkan pada Selasa (21/7/2026) waktu Amerika Serikat dan mencakup berbagai divisi penting, mulai dari Disney Entertainment Television, ESPN, Walt Disney Studios, hingga fungsi-fungsi korporasi.

Juru bicara Disney membenarkan adanya pengurangan tenaga kerja tersebut. Namun hingga kini perusahaan belum mengungkapkan jumlah pasti karyawan yang terdampak maupun kemungkinan adanya PHK lanjutan.

Pada akhir tahun fiskal 2025, Disney tercatat memiliki sekitar 231.000 karyawan di seluruh dunia, dengan sekitar 172.000 di antaranya bekerja di Amerika Serikat.

Pixar Paling Terpukul

Salah satu unit yang paling terdampak adalah Pixar Animation Studios yang bermarkas di Emeryville, California.

Menurut laporan Los Angeles Times, kurang dari 10 persen dari sekitar 1.100 pegawai Pixar diberhentikan. Ironisnya, pengurangan tenaga kerja ini terjadi ketika performa box office Pixar justru sedang membaik.

Film Toy Story 5 yang baru dirilis bulan lalu berhasil meraih pendapatan lebih dari 957 juta dolar AS di seluruh dunia, menunjukkan bahwa kesuksesan film belum tentu menjamin keamanan lapangan kerja di industri hiburan.

Fokus pada Efisiensi dan Kualitas Produksi

Dalam tiga tahun terakhir, Disney memang mengubah strategi bisnisnya. Perusahaan memilih mengurangi jumlah produksi dan lebih menitikberatkan pada kualitas film yang dirilis di bioskop.

Strategi tersebut diharapkan mampu mendukung berbagai lini bisnis Disney, mulai dari layanan streaming Disney+, taman hiburan, produk konsumen, hingga bisnis hiburan lainnya.

Sebelumnya, sejumlah film Pixar seperti Soul, Luca, dan Turning Red langsung dirilis melalui Disney+ selama masa pandemi. Belakangan, manajemen Disney mengakui kebijakan tersebut kemungkinan membuat banyak keluarga memilih menunggu film Pixar hadir di layanan streaming dibanding menontonnya di bioskop dilansir Antara.

National Geographic dan ESPN Juga Terdampak

Di bawah unit Disney Entertainment Television, merek National Geographic menjadi salah satu yang paling terkena dampak.

Media Deadline melaporkan sekitar 100 posisi dihapus dari grup televisi Disney, terutama di jaringan televisi kabel, tim editorial, serta operasional National Geographic. Sejumlah pegawai ABC News juga masuk dalam daftar PHK.

Sementara itu di ESPN, pengurangan karyawan berkaitan dengan proses integrasi aset NFL Network ke dalam jaringan olahraga tersebut.

Chairman ESPN Jimmy Pitaro menyampaikan kepada karyawan bahwa perusahaan telah mengevaluasi struktur organisasi selama beberapa bulan terakhir setelah proses akuisisi aset NFL, sehingga sejumlah keputusan sulit terkait tenaga kerja tidak dapat dihindari.

Beberapa figur publik ESPN juga dilaporkan terdampak, termasuk pembawa acara SportsCenter Karl Ravech dan analis NFL Ryan Clark.

Restrukturisasi Berlanjut

Gelombang PHK kali ini merupakan bagian dari restrukturisasi yang terus dijalankan Disney di bawah kepemimpinan CEO Josh D'Amaro.

Pada Januari lalu, Disney lebih dulu mengonsolidasikan divisi pemasaran. Kemudian pada April, perusahaan memangkas sekitar 1.000 posisi di berbagai unit, termasuk studio film, jaringan televisi, ESPN, divisi teknologi, produk, hingga fungsi korporasi.

Langkah terbaru ini memperlihatkan bahwa perusahaan hiburan terbesar sekalipun tetap menghadapi tekanan untuk menjaga efisiensi operasional di tengah perubahan industri media global.

Dampak bagi Industri Hiburan

Gelombang PHK di Disney menjadi gambaran perubahan besar yang sedang terjadi di industri hiburan dunia.

Meski sejumlah unit bisnis masih mencatatkan kinerja positif, perusahaan tetap melakukan evaluasi terhadap jumlah tenaga kerja, prioritas investasi, serta proyek-proyek yang dianggap paling menguntungkan dalam jangka panjang.

Seorang karyawan Pixar yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada Xinhua bahwa gelombang merger dan restrukturisasi justru memberi dampak besar terhadap pekerja kreatif.

Menurutnya, perusahaan memang dapat menghemat biaya hingga jutaan dolar, tetapi di sisi lain banyak orang yang telah berkontribusi membangun kesuksesan studio justru kehilangan pekerjaan, sehingga berdampak pada industri kreatif dan perekonomian California secara keseluruhan.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru