Orang-orang berkumpul di wilayah Maroko, Afrika Utara, yang berbatasan dengan teritori Ceuta, Spanyol, pada 30 Juli 2026. ANTARA/XINHUA
MADRID, ARAHKITA.COM – Pemerintah Spanyol memastikan migran yang masuk secara ilegal ke Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, akan dikembalikan ke Maroko.
Menteri Luar Negeri Spanyol José Manuel Albares menegaskan tidak ada migran dari gelombang masuk besar-besaran tersebut yang dibawa ke daratan utama Spanyol.
“Tidak ada seorang pun yang meninggalkan Ceuta menuju daratan (Spanyol),” kata Albares saat berkunjung ke Ceuta, Selasa (11/8/2026).
Ia mengatakan Spanyol terus melakukan pembicaraan diplomatik dengan Maroko untuk memastikan proses pemulangan berlangsung.
“Upaya diplomatik yang kami lakukan dengan Maroko bertujuan untuk memulangkan semua orang yang masuk secara ilegal,” ujar Albares.
Puluhan Ribu Orang Masuk ke Ceuta
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Ceuta menghadapi gelombang migrasi besar-besaran pada akhir Juli 2026.
Menurut perkiraan pemerintah Spanyol, lebih dari 70.000 orang memasuki wilayah tersebut dari arah Maroko. Sebagian besar melintasi perbatasan melalui jalur laut.
Situasi itu menjadi salah satu gelombang migrasi terbesar yang pernah terjadi di Ceuta. Pemerintah setempat sebelumnya menyebut puluhan orang meninggal dalam upaya menyeberang, sementara sebagian lainnya masih dinyatakan hilang.
Sebagian besar migran yang masuk kemudian telah kembali secara sukarela ke Maroko. Namun, masih terdapat migran yang bertahan di Ceuta dan menunggu kepastian mengenai nasib mereka.
Albares memastikan pemerintah Spanyol tidak akan memindahkan mereka ke daratan utama negara tersebut.
Spanyol dan Maroko Perkuat Koordinasi
Madrid kini mengandalkan kerja sama dengan Rabat untuk menyelesaikan proses pemulangan. Albares menekankan bahwa langkah tersebut dilakukan melalui jalur diplomatik dan harus tetap mengikuti ketentuan hukum yang berlaku.
Khusus bagi anak-anak di bawah umur, proses pemulangan membutuhkan prosedur tambahan, termasuk pemeriksaan mengenai kondisi keluarga dan kepentingan terbaik anak.
Pemerintah Spanyol juga berupaya memastikan bahwa gelombang migrasi dari Ceuta tidak berkembang menjadi jalur masuk menuju wilayah Eropa lainnya.
Albares menegaskan bahwa migran yang berhasil memasuki Ceuta tidak otomatis memiliki akses menuju daratan Spanyol atau negara Eropa lainnya.
Dipicu Informasi Keliru di Media Sosial
Menurut Albares, salah satu faktor yang mendorong banyak orang mencoba memasuki Ceuta adalah beredarnya informasi yang tidak benar di internet dan media sosial.
Sebagian migran disebut percaya bahwa memasuki Ceuta akan membuat mereka memiliki kesempatan untuk melanjutkan perjalanan menuju daratan Spanyol atau negara Eropa lainnya.
Pemerintah Spanyol menilai informasi semacam itu telah menciptakan harapan yang keliru dan mendorong banyak orang mengambil risiko besar.
Karena itu, Madrid juga meminta masyarakat yang berada di Maroko untuk tidak mencoba memasuki Ceuta secara ilegal.
Waspadai Gelombang Migrasi Baru 15 Agustus
Situasi di Ceuta masih menjadi perhatian aparat keamanan Spanyol. Pemerintah bahkan membatalkan cuti sejumlah personel militer dan Garda Sipil yang ditempatkan di wilayah tersebut dikutip Antara.
Langkah itu dilakukan setelah muncul laporan di media sosial mengenai kemungkinan adanya upaya penyeberangan massal baru pada 15 Agustus.
Spanyol kini memperketat pengawasan perbatasan sekaligus meningkatkan koordinasi dengan Maroko untuk mencegah terulangnya gelombang migrasi seperti yang terjadi pada akhir Juli.
Bagi Madrid, pesan yang ingin disampaikan cukup jelas: memasuki Ceuta secara ilegal bukan jalan untuk menuju daratan Spanyol ataupun Eropa, dan mereka yang masuk secara ilegal akan diproses untuk dikembalikan ke Maroko sesuai ketentuan hukum.