Ilustrasi migran di Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika utara. /ANTARA/Anadolu/py.
ISPANYA, SPANYOL, ARAHKITA.COM — Pemerintah Spanyol meningkatkan kewaspadaan menghadapi kemungkinan aksi penyeberangan massal migran menuju Ceuta pada 15 Agustus 2026.
Menteri Luar Negeri Spanyol José Manuel Albares bahkan menyampaikan peringatan langsung kepada para migran yang berada di Maroko maupun wilayah lain di Afrika agar tidak mempertaruhkan nyawa demi memasuki Ceuta secara ilegal.
Peringatan tersebut disampaikan Albares saat mengunjungi Ceuta, wilayah kantong Spanyol di pesisir Afrika Utara, Selasa (11/8/2026). Ia meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial mengenai peluang mendapatkan izin tinggal atau suaka setelah berhasil memasuki wilayah Spanyol.
“Jangan pertaruhkan nyawa kalian dalam sebuah petualangan yang ditakdirkan untuk gagal,” kata Albares.
Ia menilai informasi palsu yang beredar di media sosial telah menciptakan harapan yang keliru di kalangan calon migran.
Spanyol Perketat Keamanan di Ceuta
Situasi di Ceuta menjadi perhatian serius setelah terjadi gelombang masuk migran dalam jumlah sangat besar pada akhir Juli.
Pemerintah Spanyol memperkirakan sekitar 72.000 orang memasuki Ceuta dari Maroko pada 30 dan 31 Juli. Sebelumnya, Menteri Kebijakan Teritorial Angel Víctor Torres sempat menyebut angka sekitar 80.000 orang pada Senin (10/8). Namun, sumber pemerintah kemudian mengklarifikasi kepada kantor berita EFE bahwa angka resmi yang digunakan tetap sekitar 72.000 orang.
Sebagian besar migran tersebut kemudian kembali ke Maroko. Namun, pemerintah Ceuta menyebut masih ada ribuan orang yang berada di wilayah tersebut.
Presiden Ceuta Juan Jesús Vivas mengatakan sekitar 10.000 orang yang masuk secara ilegal masih berada di kota itu, dengan sebagian di antaranya tinggal di jalanan maupun tempat penampungan darurat.
Kondisi tersebut membuat pemerintah Spanyol mengambil langkah pengamanan tambahan.
Militer membatalkan cuti personel yang ditempatkan di Ceuta mulai Kamis. Sementara itu, Garda Sipil Spanyol menangguhkan pemberian cuti baru, izin, maupun dispensasi bagi petugas yang ditugaskan di Ceuta dan Melilla.
Langkah itu dilakukan menjelang 15 Agustus, tanggal yang disebut-sebut dalam berbagai seruan di media sosial untuk kembali melakukan penyeberangan massal.
Spanyol dan Maroko Percepat Pemulangan
Albares mengatakan Spanyol terus berkoordinasi dengan Maroko untuk menangani situasi tersebut, termasuk mempercepat proses pemulangan migran yang masuk secara ilegal.
Menurut dia, pemerintah Maroko dan sejumlah otoritas terkait telah menyatakan kesediaan untuk menerima kembali para migran.
“Setiap orang terakhir yang masuk ke Spanyol secara ilegal akan kembali ke Maroko,” ujar Albares.
Pernyataan tersebut mendapat dukungan dari Vivas. Menurutnya, salah satu cara mencegah terjadinya kembali penyeberangan massal adalah menghilangkan anggapan bahwa memasuki Ceuta secara ilegal merupakan jalan cepat untuk memperoleh dokumen resmi atau suaka.
“Cara terbaik untuk menghentikan situasi seperti ini terulang adalah dengan membuat semua orang kehilangan harapan bahwa dengan datang ke Ceuta mereka akan mendapatkan dokumen dan suaka,” kata Vivas.
Namun, persoalan migrasi di Ceuta tidak semata-mata menyangkut pengamanan perbatasan. Lonjakan kedatangan juga memberikan tekanan besar terhadap fasilitas penerimaan migran, terutama bagi anak-anak yang datang tanpa pendamping.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa fasilitas penampungan anak di Ceuta mengalami kelebihan kapasitas setelah lonjakan kedatangan pada akhir Juli.
Albares Minta Dukungan Lebih Besar dari Uni Eropa
Di tengah situasi tersebut, Albares juga meminta Uni Eropa meningkatkan dukungannya terhadap Ceuta.
Ia menggambarkan perbatasan antara Eropa dan Afrika sebagai salah satu kawasan perbatasan paling kompleks di dunia. Karena itu, menurutnya, persoalan Ceuta tidak semestinya hanya menjadi beban Spanyol.
Albares menyerukan solidaritas yang lebih besar dari negara-negara Uni Eropa dalam menghadapi tekanan migrasi di wilayah tersebut.
Ia sekaligus menegaskan bahwa para migran yang masuk ke Ceuta pada akhir Juli tidak serta-merta dapat melanjutkan perjalanan menuju daratan utama Spanyol maupun wilayah Eropa lainnya.
Ceuta memiliki rezim perbatasan khusus. Mereka yang hendak melakukan perjalanan dari wilayah tersebut menuju daratan utama Spanyol harus melalui pemeriksaan dokumen tambahan.
Dengan demikian, masuk ke Ceuta secara ilegal bukan berarti otomatis membuka jalan menuju wilayah Schengen atau negara Eropa lainnya.
Spanyol Kritik Pemeriksaan Perbatasan Italia
Persoalan migrasi Ceuta juga memunculkan ketegangan di antara negara-negara Eropa.
Albares mengkritik keputusan Italia yang memberlakukan pemeriksaan terhadap pelancong yang datang dari Spanyol. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat karena para migran yang berada di Ceuta tidak memiliki jalur bebas untuk berpindah ke wilayah daratan Eropa.
Ia menilai kebijakan Italia kemungkinan lebih dipengaruhi oleh “kepentingan partisan” dan “kebutuhan elektoral”.
Ketegangan antara Spanyol dan Italia memang meningkat setelah krisis migrasi Ceuta. Italia sebelumnya menerapkan pemeriksaan terhadap pelancong dari Spanyol karena khawatir para migran yang masuk ke Ceuta dapat melanjutkan perjalanan ke negara Eropa lainnya.
Misinformasi Jadi Tantangan Baru
Di luar persoalan pengamanan perbatasan, pemerintah Spanyol kini menghadapi tantangan lain: penyebaran informasi yang menyesatkan melalui media sosial.
Seruan untuk melakukan penyeberangan kembali pada 15 Agustus menjadi perhatian karena dapat mendorong orang mengambil risiko besar tanpa memahami konsekuensi yang mungkin dihadapi dilansir Amtara.
Pemerintah Spanyol berusaha menegaskan bahwa memasuki Ceuta secara ilegal bukanlah jaminan mendapatkan izin tinggal, dokumen perjalanan, maupun suaka.
Karena itu, Albares meminta masyarakat di Maroko dan wilayah Afrika lainnya untuk tidak mempertaruhkan keselamatan mereka berdasarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.
Bagi Madrid, persoalan Ceuta kini bukan hanya tentang menjaga garis perbatasan, tetapi juga bagaimana mencegah informasi palsu menciptakan gelombang migrasi baru yang dapat membahayakan nyawa manusia.