Peneliti Temukan Sinyal Alzheimer pada Pasien Long Covid


 Peneliti Temukan Sinyal Alzheimer pada Pasien Long Covid Peneliti Temukan Sinyal Alzheimer pada Pasien Long Covid. (Pixabay)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Penelitian terbaru mengungkap bahwa sebagian penderita long Covid dapat mengalami perubahan otak yang menyerupai pola pada penyakit Alzheimer.

Studi yang dilakukan tim peneliti dari New York University Langone Health menunjukkan bahwa respons imun jangka panjang setelah infeksi Covid-19 dapat memicu perubahan biologis di otak yang berhubungan dengan gangguan kognitif.

Long Covid, dilansir The Independent, didefinisikan sebagai kondisi ketika gejala Covid-19 bertahan lebih dari tiga bulan setelah infeksi awal. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan seperti kelelahan kronis, kabut otak, pusing, kehilangan penciuman atau rasa, hingga depresi. Data Yale Medicine memperkirakan sekitar 20 juta warga Amerika Serikat telah didiagnosis mengalami long Covid.

Penulis senior studi, Dr. Yulin Ge dari NYU Grossman School of Medicine, menjelaskan bahwa penelitian menunjukkan reaksi imun berkepanjangan dapat menyebabkan pembengkakan yang merusak penghalang penting di otak, khususnya pada bagian pleksus koroid. Struktur ini merupakan kumpulan pembuluh darah di ventrikel otak yang berfungsi memproduksi cairan serebrospinal sekaligus melindungi sistem saraf pusat.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Alzheimer’s & Dementia, peneliti memantau 86 pasien long Covid dengan gejala neurologis, 67 orang yang telah pulih sepenuhnya dari Covid tanpa gejala berkepanjangan, serta 26 individu sehat yang tidak pernah terinfeksi. Hasilnya menunjukkan peserta dengan long Covid memiliki ukuran pleksus koroid sekitar 10 persen lebih besar dibandingkan dengan kelompok yang pulih tanpa gejala jangka panjang.

Pembesaran struktur tersebut diketahui berkaitan dengan neuroinflamasi kronis dan proses neurodegeneratif, serta memiliki hubungan dengan biomarker darah yang ditemukan pada pasien Alzheimer. Peserta dengan ukuran pleksus koroid lebih besar juga mencatat skor sekitar 2 persen lebih rendah pada tes kognitif 30 poin.

Peneliti menduga long Covid dapat memicu peradangan kronis yang menyebabkan pembuluh darah di pleksus koroid menebal. Namun, hingga kini belum dapat dipastikan apakah perubahan tersebut bersifat permanen atau dapat pulih. Tim peneliti masih melakukan pemantauan lanjutan untuk mengetahui apakah perubahan otak itu dapat memprediksi risiko gangguan kognitif jangka panjang.

Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa dampak jangka panjang Covid-19 tidak hanya menyerang sistem pernapasan, tetapi juga berpotensi memengaruhi fungsi otak dan kesehatan neurologis dalam jangka panjang.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru