Loading
Ilustrasi - Menu makanan sehat. Pexels/Mikhail Nilov.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Banyak orang menghindari pasta yang sudah disimpan semalaman. Namun, sejumlah ahli gizi justru menyebut bahwa pasta yang dimasak, didinginkan, lalu dipanaskan kembali dapat memberikan dampak yang lebih baik bagi kadar gula darah dibandingkan pasta yang baru matang.
Ahli gizi asal North Carolina, Ashley Kitchens, menjelaskan bahwa proses pendinginan mengubah sebagian pati dalam pasta menjadi pati resisten, yaitu jenis pati yang lebih sulit dicerna tubuh.
“Ketika pasta dimasak, didinginkan, lalu dipanaskan kembali, sebagian pati yang mudah dicerna berubah menjadi pati resisten,” ujar Kitchens kepada Fox News Digital.
Baca juga:
Ini Gangguan Penyakit saat BerpuasaKarena sulit dicerna, pati resisten tidak langsung diubah menjadi glukosa. Dampaknya, jumlah gula yang masuk ke aliran darah menjadi lebih rendah dan lebih lambat.
Selain itu, pati resisten bekerja mirip serat makanan. Pati ini menjadi sumber energi bagi bakteri baik di usus dan membantu menjaga kesehatan pencernaan.
Proses perubahan pati tersebut dikenal sebagai retrogradasi. Saat pasta baru dimasak, pati berada dalam bentuk yang mudah dicerna. Namun setelah disimpan di lemari es sekitar 24 jam, struktur pati berubah sehingga tidak sepenuhnya dapat dipecah oleh enzim pencernaan.
Ahli gizi dari The Ohio State University Wexner Medical Center menjelaskan bahwa efek ini membuat pasta yang dipanaskan ulang menghasilkan respons gula darah yang lebih rendah, sekaligus sedikit mengurangi jumlah kalori yang diserap tubuh.
Temuan serupa juga diperkuat oleh penelitian Universitas Surrey, Inggris, yang menunjukkan bahwa konsumsi pasta yang dimasak, didinginkan, lalu dipanaskan kembali—terutama yang dimasak al dente—menyebabkan lonjakan gula darah dan insulin yang lebih rendah dibandingkan pasta segar.
Meski demikian, Associate Professor dari University of South Florida College of Public Health, Lauri Wright, mengingatkan bahwa manfaat ini tidak bersifat mutlak dan dapat berbeda pada setiap individu.
“Efeknya bisa membantu menurunkan atau memperlambat kenaikan glukosa, tetapi bukan berarti pasta menjadi aman sepenuhnya dari sudut pandang gula darah,” kata Wright, seperti yang dikutip dari Antara.
Bagi penderita diabetes, pati resisten memang dapat membantu menekan lonjakan gula darah. Namun, perubahan kecepatan penyerapan glukosa juga bisa memengaruhi waktu kerja insulin, sehingga tetap perlu perhatian khusus.
Para ahli sepakat bahwa pengendalian porsi tetap menjadi faktor paling penting.
“Hanya sebagian pati yang berubah menjadi pati resisten. Jika porsinya terlalu besar, manfaatnya bisa jadi tidak signifikan,” ujar Kitchens.
Kesimpulannya, memanaskan ulang pasta bisa memberikan sedikit keuntungan metabolik, tetapi pola makan seimbang, asupan serat yang cukup, serta kontrol porsi tetap menjadi kunci utama menjaga kadar gula darah tetap stabil.