Loading
Fenomena rojali dan rohana kembali jadi sorotan di pusat perbelanjaan. Pengunjung ramai, tapi transaksi minim. Apa penyebabnya? (KOMPAS.COM/FIRMANSYAH)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pernah melihat sekelompok orang keliling mal, tanya-tanya harga, coba-coba produk, tapi tak beli apa pun? Fenomena ini sering dijuluki “rojali” atau “rohana” — singkatan dari rombongan jarang beli atau rombongan hanya nanya. Tapi, apa sebenarnya yang terjadi dari sisi psikologis?
Psikolog klinis dan forensik Kasandra Putranto menjelaskan bahwa perilaku seperti ini bukan sekadar iseng atau sekadar jalan-jalan tanpa tujuan. Dalam wawancaranya di Jakarta, Jumat (25/7/2025), Kasandra menyoroti bahwa fenomena ini bisa dijelaskan melalui teori hierarki kebutuhan manusia.
“Manusia punya lima lapis kebutuhan: mulai dari yang paling dasar seperti kebutuhan fisiologis dan rasa aman, hingga kebutuhan akan hubungan sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri,” ujar Kasandra.
Bukan Mau Belanja, Tapi Mau "Healing" dan Bersosialisasi
Menurut Kasandra, banyak orang datang ke pusat perbelanjaan bukan semata untuk membeli barang, tapi untuk memenuhi kebutuhan sosial atau emosional. Aktivitas seperti berkumpul bersama teman, refreshing, hingga sekadar melepas penat dari rutinitas adalah motivasi yang kuat — dan semua itu tak selalu berujung pada transaksi.
“Window shopping bisa jadi bentuk aktualisasi diri. Orang merasa senang hanya dengan melihat-lihat barang atau masuk ke toko tertentu, bahkan kalau pun akhirnya tidak membeli,” kata Kasandra.
Pencitraan dan Harga Diri: Antara Ingin Beli dan Gengsi
Lebih jauh, Kasandra menjelaskan bahwa sebagian orang yang tampak “seolah mau beli” padahal tidak, bisa jadi sedang membentuk citra diri. Mereka ingin terlihat mampu di hadapan teman, pramuniaga, atau bahkan dirinya sendiri.
Ketika seseorang sebenarnya sadar bahwa ia tidak mampu membeli, tapi tetap ingin berada di lingkungan konsumtif, bisa timbul konflik batin. Akhirnya, mereka berpura-pura tertarik demi menjaga harga diri atau menghindari rasa malu.
Konten, Validasi, dan Eksistensi Sosial
Di era digital, tak sedikit pula orang yang sengaja datang ke toko atau mal elite hanya untuk mendapatkan konten media sosial. Aktivitas ini bisa menjadi sarana validasi diri atau menunjukkan eksistensi online, meskipun tak ada transaksi terjadi.
“Masuk ke tempat yang dianggap keren atau sedang tren bisa membuat seseorang merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu. Itu nilai simbolik yang dicari,” ujar Kasandra.
Norma Sosial dan Budaya Sopan Santun
Fenomena “rojali” atau “rohana” juga tak lepas dari faktor budaya. Dalam masyarakat Indonesia yang menjunjung kesopanan, ada kecenderungan untuk tetap terlihat menghargai penjual, bahkan ketika sebenarnya tak berniat membeli.
“Kadang pelanggan merasa tidak enak jika langsung menolak, jadi mereka berpura-pura tertarik dulu demi menjaga norma sosial,” jelas Kasandra.
Window Shopping Adalah Tahapan Normal
Tak selalu negatif, perilaku melihat-lihat atau bertanya sebelum membeli juga bisa merupakan bagian dari proses wajar dalam pengambilan keputusan konsumen. Dalam psikologi konsumen, ini disebut pencarian informasi pra-pembelian — langkah awal sebelum benar-benar melakukan pembelian.
“Window shopping adalah proses alami yang membantu konsumen menimbang harga, kualitas, dan kebutuhan sebelum memutuskan,” tutup Kasandra dikutip Antara.