Loading
Puluhan pemuda Gen Z Gejala dan Maumolo di Timor Tengah Selatan mengikuti pelatihan budidaya ayam kampung dari Dinas Peternakan NTT, Selasa (23/6/2026). (Foto-Foto: Dok. Gen Z. Gejala)
TIMOR TENGAH SELATAN, ARAHKITA.COM - Semangat anak muda untuk membangun usaha dari desa kembali mendapat dukungan nyata. Puluhan pemuda yang tergabung dalam komunitas Gen Z Gejala dan kelompok pemuda Maumolo mengikuti pelatihan budidaya ayam kampung yang diselenggarakan oleh Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (23/6/2026).
"Pelatihan ini diikuti oleh 10 pemuda yang berasal dari berbagai komunitas binaan. Dari jumlah tersebut, dua peserta merupakan perwakilan pemuda Maumolo, sementara delapan lainnya berasal dari Tim Gen Z Gejala yang aktif mengembangkan berbagai program pemberdayaan generasi muda di Timor Tengah Selatan,"jelas Koordinator Pemuda Maumolo, Setiawan Andre.
Lebih lanjut Setiawan mengatakan pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Kepala Bidang Peternakan Provinsi NTT, drh. Henny, saat menghadiri panen simbolis jagung di lahan Gen Z Gejala pada 12 Juni 2026 lalu. Saat itu, ia melihat antusiasme dan semangat generasi muda dalam mengembangkan sektor pertanian dan peternakan sehingga mengundang mereka untuk mengikuti pelatihan secara khusus.
Sektor peternakan menurut Setiawan memiliki peluang ekonomi yang sangat besar, terutama karena kebutuhan ayam kampung untuk konsumsi maupun kebutuhan adat masih tinggi dan belum sepenuhnya terpenuhi.
“Peternakan ayam kampung merupakan sektor usaha yang menjanjikan. Kebutuhan pasar masih besar sehingga ini menjadi peluang yang sangat baik bagi anak-anak muda untuk membangun usaha mandiri,” ujarnya.
Menurut Setiawan, pelatihan tersebut tidak hanya memperkenalkan teknologi mesin tetas telur, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan praktis yang dibutuhkan untuk memulai usaha peternakan.
Peserta mendapatkan materi mengenai cara menggunakan dan merakit mesin tetas telur dari bahan sederhana, mengenali penyakit unggas dan penanganannya, hingga menyusun pakan ayam berkualitas dengan bahan lokal yang lebih murah dan mudah diperoleh.
“Dengan mesin tetas telur, produksi bisa meningkat lebih cepat karena masa mengeram induk dapat dipangkas. Indukan bisa kembali bertelur sehingga produktivitas meningkat,” jelasnya.
Ia menilai pelatihan semacam ini membuka banyak peluang usaha baru bagi generasi muda, mulai dari produksi bibit ayam kampung, penjualan telur, usaha ayam pedaging, pembuatan pakan ternak, hingga produksi alat tetas telur.
“Anak muda tinggal memilih bidang mana yang ingin mereka tekuni. Peluangnya sangat luas,” tambahnya.
Terima Bantuan Mesin Tetas Telur
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga menerima bantuan mesin tetas telur berkapasitas 20 butir dari Dinas Peternakan Provinsi NTT sebagai sarana praktik sekaligus modal awal pengembangan usaha.
Yaya, penggerak Gen Z Gejala yang juga mengembangkan UMKM Asset Sambal, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi yang terjalin antara komunitas Gen Z Gejala, Yayasan Felix Maria Go (YFMG), dan Dinas Peternakan Provinsi NTT.
“Kami tidak hanya belajar cara menetaskan telur ayam KUB dan merakit alat tetas dari bahan sederhana, tetapi juga mendapatkan bantuan satu unit mesin tetas telur. Ini menjadi modal berharga bagi kami untuk memulai,” katanya.
Yaya menegaskan bahwa komunitas Gen Z Gejala berkomitmen membangun kebun edukasi yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan sebagai ruang belajar sekaligus pengembangan ekonomi desa.
Dorong Anak Muda Membangun Masa Depan dari Desa
Ketua Tim Gejala Kecamatan Mollo Utara, Aser Tefnai, menyebut pelatihan tersebut memberikan bekal pengetahuan yang sangat dibutuhkan oleh generasi muda desa.
Materi yang diberikan mencakup teknik merakit mesin tetas, pembuatan pakan berbahan lokal, vaksinasi ayam KUB, hingga teknik sukses menetaskan telur ayam kampung.
“Kami sangat bersyukur mendapat kesempatan belajar langsung dari para narasumber. Ini menjadi bekal penting bagi kami untuk mengembangkan usaha peternakan di desa,” ujarnya.
Senada dengan itu, Yunus Bees Ketua Gen Z Gejala dari dari Desa Persiapan Sais Ana mengatakan pelatihan tersebut tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga motivasi agar generasi muda berani membangun mimpi dari kampung halaman.
“Kami diajarkan bahwa sukses tidak harus selalu merantau ke kota. Dengan ilmu dan pendampingan yang tepat, peluang usaha juga bisa tumbuh dari desa,” katanya.
Ongky Fobia: Anak Muda Perlu Diberi Ruang untuk Bertumbuh
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Gen Z Gejala, komunitas Gen Z di Desa Bijaepunu, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten TTS, Ongky Fobia menegaskan pentingnya melibatkan generasi muda dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan sektor pertanian, peternakan, dan pengembangan ekonomi desa.
Menurutnya, investasi terbaik bagi masa depan desa bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan kualitas sumber daya manusia, terutama generasi muda.
"Anak-anak muda perlu diberi ruang untuk belajar, mendapatkan pengalaman, dan memperoleh kesempatan untuk berkembang. Ketika mereka dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, mereka akan mampu menjadi penggerak pembangunan di desanya sendiri," ujar Ongky Fobia.
Ia berharap pelatihan budidaya ayam kampung yang difasilitasi Dinas Peternakan Provinsi NTT ini dapat melahirkan lebih banyak peternak muda di Timor Tengah Selatan sekaligus menjadi contoh bahwa membangun
Hadirkan Narasumber Berpengalaman
Pelatihan menghadirkan empat narasumber yang membagikan materi sesuai bidang keahlian masing-masing, yakni:
Seluruh materi kemudian dirangkum dan diperkuat oleh drh. Henny dengan pendekatan yang sederhana agar mudah dipahami peserta.
Sementara itu, Fransiscus Go berpesan agar generasi muda terus dilibatkan dalam berbagai program pemberdayaan. Menurutnya, investasi terbaik bagi desa adalah memberikan ruang belajar, pengalaman, dan kesempatan kepada anak-anak muda untuk berkembang.
Ia berharap pelatihan budidaya ayam kampung ini mampu melahirkan lebih banyak peternak muda di Timor Tengah Selatan dan menjadi contoh bahwa membangun masa depan tidak selalu harus dilakukan dengan merantau ke luar daerah.
“Ketika anak muda memiliki keterampilan dan keberanian berusaha, mereka tidak lagi hanya mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri dan lingkungannya,” pungkasnya.