Tradisi Kurban tanpa Kupon? Ini Cerita Manampuang di Agam, Sumatera Barat


  • Sabtu, 07 Juni 2025 | 22:30
  • | News
 Tradisi Kurban tanpa Kupon? Ini Cerita Manampuang di Agam, Sumatera Barat Tradisi Manampuang di Jorong Sitingkai, Nagari Koto Rantang, Palupuh, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, Senin (17/6/2024) (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

AGAM, SUMBAR, ARAHKITA.COM — Saat sebagian besar daerah membagikan daging kurban menggunakan sistem kupon, masyarakat di Jorong Aro Kandikia, Gadut, Kabupaten Agam, masih setia menjalankan tradisi lama yang unik: Manampuang.

Tradisi ini kembali digelar pada Sabtu, 7 Juni 2025, bertepatan dengan momen Idul Adha. Ratusan warga terlihat berjejer rapi di sepanjang jalan dekat Surau Baru Aro Kandikia, masing-masing membawa wadah seperti ember, keranjang anyaman, hingga kantong plastik, siap "menampung" potongan daging kurban.

Warisan Leluhur yang Tetap Hidup

“Sejak kecil saya sudah ikut Manampuang. Ini tradisi dari zaman nenek moyang yang tetap kami jaga sampai sekarang,” ujar Arnita (56), salah satu warga yang rutin mengikuti kegiatan ini setiap tahun.

Tak seperti sistem distribusi modern, Manampuang mengandalkan kesadaran dan kepercayaan antarwarga. Siapa pun yang hadir—tua, muda, bahkan anak-anak—pasti kebagian daging tanpa perlu membawa kupon.

Ketua Panitia Kurban, A. Datuk Gadang (71), menyebutkan bahwa tahun ini mereka menyembelih lima ekor sapi, meningkat dari tiga ekor pada tahun sebelumnya. "Peserta kurban berasal dari jamaah surau dan warga setempat, total ada 35 orang," jelasnya.

Bukan Sekadar Berbagi, tapi Juga Merawat Kebersamaan

Manampuang bukan hanya soal pembagian daging. Tradisi ini telah menjadi simbol solidaritas dan kearifan lokal di tengah perubahan zaman. Bahkan dari segi perlengkapan pun telah mengalami evolusi—dulu warga membawa daun talas atau pisang, kini diganti dengan wadah yang lebih modern.

“Bagi kami, ini bukan cuma tentang daging kurban. Ini soal kebersamaan dan menjaga tradisi,” kata Novita, warga lainnya dikutip dari Antara.

Menjaga Tradisi di Era Modern

Di tengah maraknya sistem distribusi digital, Tradisi Manampuang justru menunjukkan bahwa nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong tetap relevan. Tak heran, prosesi ini menjadi satu-satunya yang masih bertahan di Kabupaten Agam, bahkan menjadi daya tarik tersendiri setiap tahunnya.

Bagi masyarakat Aro Kandikia, Manampuang bukan sekadar rutinitas tahunan—ia adalah identitas, pengingat bahwa semangat berbagi dan persaudaraan bisa terus hidup, bahkan tanpa selembar kupon.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru