Ilustrasi- Emisi karbon (Foto: www.freepik.com)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Indonesia dinilai tengah berada di persimpangan krusial dalam upaya global menghadapi krisis iklim. Alih-alih memperkuat komitmen, penundaan pengajuan dokumen iklim Second Nationally Determined Contribution (Second NDC) serta munculnya wacana pengurangan target ambisi FOLU Net Sink 2030 justru dinilai melemahkan posisi Indonesia di mata dunia.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif MADANI Berkelanjutan, Nadia Hadad, menanggapi pernyataan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Raja Juli Antoni, yang menyebut bahwa dokumen SNDC harus disusun dengan “realistis, inklusif, dan dapat dieksekusi.”
Menurut Nadia, Indonesia seharusnya tampil sebagai pemimpin dalam upaya penyelamatan iklim global, bukan justru menunjukkan sikap hati-hati yang bisa berujung pada kemunduran. “Dunia butuh negara yang berani pasang target tinggi, bukan yang menurunkan ambisi di saat dunia sedang memperkuatnya,” tegasnya.
Apa itu SNDC dan Mengapa Penting?
Second NDC adalah pembaruan dari komitmen iklim nasional yang diwajibkan oleh Perjanjian Paris setiap lima tahun. Tahun 2025 menjadi tenggat penting bagi seluruh negara untuk mengajukan target yang lebih ambisius guna membatasi kenaikan suhu bumi di bawah 1,5°C. Namun hingga kini, koleksi NDC dari berbagai negara masih mengarah pada pemanasan 2,5–2,9°C, jauh dari ambang batas aman.
Kekhawatiran terhadap Penurunan Target FOLU Net Sink
Salah satu perhatian utama publik adalah potensi revisi target Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 ke arah yang lebih rendah. Target ini sebelumnya menjadi simbol komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya.
Menurut Nadia, melemahkan target FOLU Net Sink hanya karena khawatir tidak tercapai adalah langkah mundur. “Kepemimpinan bukan berarti memainkan aman, tapi berani menetapkan visi yang besar dan diwujudkan lewat kebijakan konkret,” tegasnya.
Kepemimpinan Iklim Tak Bisa Ditunda
Penundaan SNDC, lanjut Nadia, berisiko besar bagi masa depan Indonesia. Negara ini adalah pemilik hutan tropis terbesar ketiga dunia dan rumah bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Menurunkan ambisi bukan hanya soal diplomasi, tapi juga menyangkut stabilitas ekonomi, sosial, dan ekologi nasional dalam jangka panjang.
Apalagi, pada Agustus 2024 lalu, sebanyak 64 organisasi masyarakat sipil telah menyerahkan rekomendasi SNDC yang menuntut keadilan iklim, pelibatan aktif kelompok rentan, serta target yang selaras dengan sains.
“Kalau tidak ada ruang partisipasi bermakna, SNDC hanya akan jadi dokumen administratif yang indah di atas kertas tapi kosong dari substansi,” kritik Nadia.
Desakan untuk Pemerintah: Ajukan SNDC Ambisius dan Adil Iklim
MADANI Berkelanjutan kini mendesak agar pemerintah segera mengajukan SNDC yang mencerminkan kepemimpinan nyata. Target FOLU Net Sink harus tetap dipertahankan, sementara upaya adaptasi harus berpihak pada kelompok rentan yang paling terdampak krisis iklim.
“Ambisi iklim tinggi bukan ilusi, tapi satu-satunya jalan untuk memastikan masa depan yang layak bagi generasi mendatang. Tanpa keadilan, tidak ada transisi yang bisa diterima,” tutup Nadia dalam rilis yang diterima media ini, Jumat (20/6/2025).