Loading
Ilustrasi - Matahari buatan China. (Harian Jogja)
BEIJING, ARAHKITA.COM — Upaya manusia menghadirkan sumber energi bersih masa depan kembali mencatatkan kemajuan penting. Tim peneliti internasional mengumumkan temuan baru dalam eksperimen “matahari buatan”, sebuah reaktor fusi nuklir eksperimental yang dikembangkan untuk meniru proses energi Matahari di Bumi.
Eksperimen ini dilakukan menggunakan Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST), reaktor fusi berbentuk cincin magnetik yang beroperasi di China. Riset tersebut melibatkan kolaborasi lintas negara, termasuk Institut Fisika Plasma di Hefei Institutes of Physical Science di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China, Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Huazhong, serta Universitas Aix-Marseille di Prancis. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science Advances pada Jumat (2/1/2026).
Tokamak sendiri merupakan perangkat utama dalam riset fusi nuklir. Dengan bantuan medan magnet superkuat, alat ini menahan plasma bersuhu ekstrem agar reaksi fusi dapat berlangsung stabil. Salah satu faktor penentu keberhasilan proses tersebut adalah kepadatan plasma—semakin tinggi densitasnya, semakin besar peluang reaksi fusi terjadi.
Namun, selama puluhan tahun, para ilmuwan menghadapi tantangan besar: kepadatan plasma memiliki batas maksimum. Ketika ambang ini terlampaui, plasma menjadi tidak stabil, keluar dari kendali magnetik, dan berpotensi merusak dinding reaktor akibat lonjakan energi yang dilepaskan.
Dalam penelitian terbaru ini, tim peneliti mengembangkan model teoretis baru tentang interaksi plasma dan dinding reaktor. Model tersebut menunjukkan bahwa ketidakstabilan radiasi, yang dipicu oleh partikel kotoran di area batas plasma-dinding, menjadi faktor kunci munculnya batas kepadatan plasma. Temuan ini membantu menjawab pertanyaan lama yang belum sepenuhnya terjelaskan dalam riset fusi internasional dikutip Antara.
Berbekal pemahaman baru tersebut, para ilmuwan kemudian melakukan pengendalian plasma secara eksperimental. Hasilnya, mereka berhasil melampaui batas densitas yang selama ini dianggap aman, sekaligus mengarahkan plasma ke sebuah “zona bebas densitas” yang baru dan stabil.
Pencapaian ini menjadi konfirmasi eksperimental pertama atas keberadaan zona tersebut dalam perangkat tokamak. Para peneliti menilai temuan ini sebagai tonggak penting dalam pengembangan reaktor fusi, karena membuka jalan bagi operasi plasma berdensitas tinggi yang lebih aman dan efisien.
Ke depan, terobosan ini diyakini akan mempercepat langkah menuju realisasi energi fusi nuklir sebagai sumber energi bersih, berkelanjutan, dan hampir tanpa emisi karbon—sebuah harapan besar dalam menjawab tantangan krisis energi global.