Senin, 05 Januari 2026

Puisi, Visual, dan Sejarah: Cara Baru Gedung Juang Menghidupkan Ingatan Bekasi


  • Sabtu, 03 Januari 2026 | 23:25
  • | News
 Puisi, Visual, dan Sejarah: Cara Baru Gedung Juang Menghidupkan Ingatan Bekasi Pengalaman audio visual di Gedung Juang Bekasi menghadirkan puisi, visual, dan musik yang menyentuh. (Foto: Cantika Bunga Sasela)

BEKASI, ARAHKITA.COM — Di balik kokohnya dinding bersejarah Gedung Juang Bekasi, tersimpan sebuah ruang yang mampu menghentikan langkah pengunjung sejenak. Bukan etalase kaca atau deretan teks panjang, melainkan sebuah pengalaman audio visual berupa pembacaan puisi tentang Bekasi–Karawang yang disajikan dengan visual dan musik pengiring yang menyentuh.

Begitu memasuki ruangan, pengunjung diajak menyeberangi waktu. Bait demi bait puisi mengalir, menuturkan kisah luka dan harapan, tentang tanah yang pernah menjadi saksi perjuangan berdarah, sekaligus ruang tumbuh bagi kota yang terus bergerak menuju modernisasi. Dalam suasana temaram dan ritme musik yang pelan, narasi itu mengikat emosi—membuat sejarah terasa dekat dan personal.

“Jujur, ini pengalaman yang bikin merinding. Rasanya seperti ditarik kembali ke masa lalu dan diingatkan bahwa Bekasi punya sejarah panjang yang membanggakan,” ujar Nisa, salah satu pengunjung, usai menyaksikan pertunjukan.

Pendekatan ini menawarkan cara baru mengenal sejarah: tidak sekadar membaca atau melihat benda peninggalan, tetapi mengalami. Suara pembaca puisi, potongan visual dokumenter, dan komposisi musik disusun rapi untuk membangkitkan rasa memiliki—sebuah strategi yang membuat pesan sejarah lebih mudah membekas.

Sebagai bangunan bersejarah yang lahir pada masa kolonial, Gedung Juang menyimpan jejak penting perjuangan rakyat melawan penjajah. Kini, transformasinya menjadi ruang publik edukatif yang modern membuatnya relevan bagi lintas generasi. Banyak pengunjung mengaku, kedekatan emosional dengan sejarah Bekasi justru mereka rasakan pertama kali lewat ruang audio visual ini.

Selain ruang video puisi, gedung ini juga menampilkan koleksi replika senjata, dokumentasi perjuangan, foto-foto masa kemerdekaan, hingga artefak budaya yang merekam perjalanan panjang masyarakat Bekasi. Namun, ruang audio visual menjadi magnet utama karena berhasil menyatukan edukasi dan seni dalam satu pengalaman yang utuh.

Menurut pengelola, konsep ini sengaja dirancang untuk menjawab tantangan museum masa kini. Ketika generasi muda lebih tertarik pada pendekatan visual dan interaktif, sejarah perlu disajikan secara kreatif tanpa kehilangan nilai autentiknya. Inovasi ini diharapkan menjadi contoh bahwa museum bisa relevan, hidup, dan bermakna.

Tak heran, ruang ini kini menjadi favorit pelajar. Sejumlah sekolah mulai menjadikan Gedung Juang sebagai tujuan studi lapangan. Para guru menilai, pembelajaran berbasis pengalaman mampu meningkatkan minat dan pemahaman siswa—karena mereka tidak hanya membaca, tetapi juga merasakan.

Di tengah maraknya pusat hiburan dan perbelanjaan di Bekasi, kehadiran wisata budaya yang tenang dan reflektif seperti ini menjadi alternatif yang menyegarkan. Pengunjung pulang dengan perasaan berbeda: lebih hening, lebih sadar, dan lebih terhubung dengan akar sejarah.

Pada akhirnya, video puisi di Gedung Juang mengingatkan bahwa setiap daerah memiliki cerita. Ketika disampaikan dengan cara yang tepat—melalui sentuhan seni—cerita itu tak hanya bertahan, tetapi juga tinggal lama di hati.

Laporan: Cantika Bunga Sasela, Wakil Kelompok Ilmu Komunikasi UBSI Cibitung Semester 3.

 

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru