Kamis, 22 Januari 2026

Caritas Indonesia Peringatkan Bahaya Perdagangan Orang di Wilayah Pascabencana Sumatera


  • Senin, 05 Januari 2026 | 22:15
  • | News
  Caritas Indonesia Peringatkan Bahaya Perdagangan Orang di Wilayah Pascabencana Sumatera Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk, menegaskan bahwa pemberantasan perdagangan orang merupakan tanggung jawab bersama. (Foto: Dok. Caritas Indonesia)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Pascabencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, risiko perdagangan orang dan migrasi tidak aman meningkat tajam. Caritas Indonesia mengeluarkan peringatan dini agar seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan, terutama di daerah terdampak seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Menurut Caritas Indonesia, kondisi darurat pascabencana sering kali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Warga yang kehilangan rumah, pekerjaan, anggota keluarga, hingga dokumen penting berada dalam posisi rentan dan mudah terjerat janji-janji palsu yang berujung pada praktik perdagangan orang.

Komite Migran, Pengungsi, dan Anti-Perdagangan Orang Caritas Indonesia menilai bahwa bencana bukan hanya soal kerusakan fisik. Trauma psikologis, kebingungan, dan rasa putus asa yang dialami penyintas menciptakan ruang bagi predator untuk mendekat dengan modus bantuan kemanusiaan, tawaran pekerjaan, relokasi, hingga adopsi anak.

Caritas menegaskan, negara dan masyarakat sipil harus hadir secara nyata. Perlindungan hukum, pengawasan di lokasi pengungsian, serta pendampingan sosial menjadi kunci agar warga terdampak tidak semakin terpuruk. Setiap lokasi pengungsian dan wilayah pemulihan perlu dikawal ketat agar tidak dimasuki calo maupun jaringan perdagangan orang.

Pengalaman penanganan bencana sebelumnya menjadi pelajaran penting. Dalam berbagai kasus, kelengahan di fase pascabencana justru memicu lonjakan perdagangan orang. Karena itu, Caritas Indonesia mendorong upaya pencegahan sejak dini melalui edukasi publik dan penguatan sistem perlindungan di tingkat lokal.

Sebagai langkah konkret, Caritas Indonesia melakukan sosialisasi masif tentang bahaya perdagangan orang dan migrasi tidak aman. Program ini dijalankan bersama Komisi Keadilan dan Perdamaian – Pastoral Migran dan Perantau di sejumlah keuskupan di Sumatera. Selain itu, pemerintah daerah didorong menjadikan isu ini sebagai program prioritas Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang di wilayah terdampak bencana.

Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Fredy Rante Taruk, menegaskan bahwa upaya pemberantasan perdagangan orang adalah tanggung jawab bersama. Dengan dukungan 38 jaringan keuskupan di seluruh Indonesia, Caritas membuka ruang kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan sistem migrasi yang aman dan berkeadilan bagi masyarakat rentan.

Peringatan serupa disampaikan oleh Chrisantus Paschalis, anggota Komite Caritas Indonesia dan pendamping Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau di Batam. Ia menilai wilayah pascabencana kerap menjadi “ladang subur” bagi calo dan jaringan perdagangan orang. Dalam masa pemulihan yang panjang, warga yang kehilangan pekerjaan, orang tua, dan identitas resmi menjadi sasaran empuk.

Sementara itu, praktisi hubungan internasional sekaligus anggota Komite Caritas Indonesia, Dinna Prapto Raharja, mengungkap sejumlah modus yang perlu diwaspadai. Pelaku sering menyamar sebagai lembaga peduli bencana, memanfaatkan empati, serta mengeksploitasi rasa tidak berdaya korban. Janji pekerjaan, pendidikan, perlindungan, hingga pengurusan dokumen kerap digunakan untuk menjebak korban.

Menurut Dinna, predator biasanya melumpuhkan daya kritis korban dengan cara mengisolasi mereka dari lingkungan sekitar, membatasi akses informasi, mendesak pengambilan keputusan cepat, hingga memberikan uang sebagai umpan awal. Karena itu, kepekaan aparat, relawan, media, dan masyarakat menjadi benteng utama pencegahan.

Pandangan senada disampaikan Laurentina SDP, anggota Komite Caritas Indonesia di Kupang. Ia menilai banyak korban tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi. Di sinilah peran media menjadi sangat penting untuk menyebarkan informasi dan kewaspadaan agar tragedi serupa tidak berulang di wilayah lain.

Sejak bencana hidrometeorologi melanda Sumatera pada akhir November 2025, Caritas Indonesia bersama sejumlah keuskupan terlibat aktif dalam pelayanan kemanusiaan. Berdasarkan laporan situasi per 3 Januari 2026, lebih dari 3,3 juta jiwa terdampak, sekitar 1 juta orang mengungsi, dengan ribuan korban meninggal, hilang, dan luka-luka. Ratusan ribu rumah dilaporkan rusak dengan berbagai tingkat keparahan.

Selain pemantauan risiko perdagangan orang, Caritas Indonesia juga menyalurkan bantuan pangan, perlengkapan kebersihan, hunian darurat, layanan kesehatan, serta dukungan psikososial bagi warga terdampak. Bagi masyarakat yang menemukan dugaan praktik perdagangan orang atau migrasi tidak aman, Caritas membuka layanan pengaduan melalui WhatsApp 0811-9996-728 atau email [email protected].

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru