Kamis, 22 Januari 2026

Kemenhub: Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak di Maros, Dilaporkan Angkut 10 Orang


  • Sabtu, 17 Januari 2026 | 17:40
  • | News
 Kemenhub: Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak di Maros, Dilaporkan Angkut 10 Orang Ilustrasi pesawat jatuh. (ANTARA News /Insan Faizin Mubarak)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyampaikan bahwa pesawat jenis ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang dilaporkan hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, diduga mengangkut 10 orang.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa mengatakan, jumlah orang di dalam pesawat atau persons on board (POB) berdasarkan laporan awal mencapai sepuluh orang.

“Jumlah orang di dalam pesawat (POB) dilaporkan sebanyak 10 orang,” kata Lukman dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (17/1/2026).Menurutnya, sepuluh orang tersebut terdiri atas tujuh awak pesawat dan tiga penumpang. Namun, Kemenhub belum merinci identitas pihak-pihak yang berada di dalam pesawat.

Kemenhub menerima laporan hilangnya pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat itu merupakan produksi tahun 2000 dengan nomor seri 611.

Berdasarkan data penerbangan yang diterima, ATR tersebut tengah menjalankan rute Yogyakarta (Adi Sucipto/JOG) menuju Makassar (Sultan Hasanuddin/UPG), dengan Pilot in Command Capt. Andy Dahananto.

Target Pencarian di Kawasan Karst Bantimurung

Saat ini, proses pencarian masih berlangsung. Lokasi yang menjadi target pencarian berada di kawasan pegunungan kapur Bantimurung, tepatnya sekitar Desa Leang-leang, Kabupaten Maros, yang sekaligus dijadikan posko Basarnas.

Tim gabungan juga merencanakan pencarian lanjutan melalui jalur udara. Disebutkan, penerbangan helikopter TNI Angkatan Udara bersama Basarnas dijadwalkan dilakukan pada pukul 16.25 WITA.

Sementara itu, AirNav Indonesia disebut tengah menyiapkan penerbitan Notice to Airmen (NOTAM) terkait kegiatan Search and Rescue (SAR) agar aktivitas pencarian dan pertolongan bisa berjalan aman dan terkoordinasi.

Cuaca Awal: Jarak Pandang Sekitar 8 Km

Untuk kondisi cuaca saat kejadian, informasi awal menunjukkan jarak pandang (visibility) sekitar 8 kilometer dengan kondisi langit di sekitar area dilaporkan sedikit berawan.

Namun demikian, Kemenhub menegaskan detail cuaca dan konfirmasi resmi masih menunggu koordinasi lebih lanjut dengan BMKG.

Kemenhub Koordinasi dengan AirNav, Basarnas, hingga TNI AU

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyatakan koordinasi intensif terus dilakukan melalui Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah V Makassar bersama berbagai pihak, termasuk AirNav Indonesia, Basarnas, operator penerbangan, TNI AU, serta instansi terkait lainnya.

Koordinasi dilakukan untuk memantau perkembangan situasi sekaligus memastikan langkah penanganan berjalan optimal.

Imbauan Kewaspadaan Operator Penerbangan

Dalam keterangan tersebut, Kemenhub juga mengingatkan seluruh operator penerbangan agar lebih waspada terhadap dinamika cuaca. Operator diminta melakukan perencanaan penerbangan secara maksimal dan mematuhi persyaratan cuaca minimum pada tahap dispatch, take off, dan landing sesuai SOP.

Selain itu, operator penerbangan juga diimbau menerapkan ALAR (Approach and Landing Accident Reduction) Toolkit sebagai langkah pencegahan insiden maupun kecelakaan, terutama pada fase pendekatan dan pendaratan saat cuaca buruk atau wilayah pegunungan.

Sebagai pedoman, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah menerbitkan sejumlah Surat Edaran, di antaranya:

  • SE Nomor 3 Tahun 2020 tentang peningkatan kewaspadaan cuaca ekstrem dan persiapan arus penumpang pada musim puncak,
  • SE Nomor 47 Tahun 2020 tentang operasi penerbangan pada kondisi weather minima,
  • SE Nomor 01 Tahun 2022 terkait kewaspadaan cuaca ekstrem dampak La Niña,
  • SE Nomor 09 Tahun 2024 tentang peningkatan kewaspadaan menjelang libur Nataru serta penanganan abu vulkanik bagi pemegang AOC dan OC.
Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru