Kamis, 22 Januari 2026

Pesawat ATR IAT Hantam Lereng Bulusaraung, KNKT: Bukan Sengaja, tapi Benturan tak Terhindarkan


  • Minggu, 18 Januari 2026 | 23:20
  • | News
 Pesawat ATR IAT Hantam Lereng Bulusaraung, KNKT: Bukan Sengaja, tapi Benturan tak Terhindarkan Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menyampaikan perihal kasus kecelakaan pesawat ATR 42-500 akibat menabrak lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), di Bandara Internasional Sultan Hasanuddi Makassar, di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (18/1/2026). ANTARA/Darwin Fatir.

MAKASSAR, ARAHKITA.COM – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebut kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang pecah berhamburan usai menghantam lereng Gunung Bulusaraung di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT).

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan, kategori CFIT merujuk pada kejadian ketika pesawat sebenarnya masih berada dalam kendali pilot, namun kemudian menabrak permukaan bumi seperti bukit atau lereng gunung.

“Kita namakan CFIT. Jadi pesawat menabrak bukit atau lereng gunung, sehingga terjadi beberapa pecahan atau serpihan akibat benturan,” kata Soerjanto saat ditemui wartawan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Minggu (18/1/2026).

Menurutnya, insiden tersebut bukan tindakan yang disengaja, tetapi benturan terjadi karena pesawat sudah terlanjur berada terlalu dekat dengan lereng.

Pesawat, kata Soerjanto, masih bisa dikendalikan, namun pada momen krusial itu benturan tidak dapat dihindari. Dampak tabrakan keras diduga membuat badan pesawat mengenai benda keras dan kemudian terpecah menjadi serpihan-serpihan. Serpihan inilah yang belakangan ditemukan oleh tim SAR gabungan saat operasi pencarian.

“Pesawatnya itu masih bisa dikontrol oleh pilotnya, tapi menabrak. Bukan sengaja menabrak,” ujarnya.

Ia kembali menekankan, istilah CFIT dipakai untuk mengidentifikasi kondisi ketika pesawat dalam status terkendali, tetapi karena faktor tertentu akhirnya menabrak bukit atau gunung.

Meski demikian, KNKT belum menyimpulkan penyebab utama kecelakaan. Soerjanto menegaskan pihaknya masih melakukan penyelidikan mendalam dan belum ingin berspekulasi mengenai kemungkinan kelalaian.

Kronologi Singkat: Hilang Kontak Saat Akan Mendarat

Sebelumnya diberitakan, pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dinyatakan hilang kontak di area pegunungan Bulusaraung, wilayah perbatasan Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, saat dalam perjalanan untuk mendarat di Bandara Hasanuddin pada Sabtu (17/1/2026) siang.

Pesawat tersebut membawa 10 orang yang terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang. Tiga penumpang diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yakni:

  • Ferry Irawan (analis kapal pengawas),
  • Deden Mulyana (pengelola barang milik negara),
  • Yoga Naufal (operator foto udara).

Sementara pilot pesawat disebut Captain Andi Dahananto.

Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan duka dan keprihatinan atas insiden tersebut. Ia mengatakan pihaknya berdoa agar korban mendapat penanganan terbaik.

“Kami terus terang sedih dan prihatin dan berdoa yang terbaik untuk para penumpang dan kru pesawat tersebut,” ujar Trenggono dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu malam dikutip Antara.

Trenggono juga menambahkan, KKP selama ini menjalankan misi air surveillance bekerja sama dengan IAT sebagai operator pesawat.

SAR Temukan Serpihan dan Satu Jenazah

Hingga kini, tim SAR gabungan dilaporkan telah menemukan sejumlah serpihan pesawat di lokasi jatuhnya pesawat. Selain itu, ditemukan pula satu jenazah korban yang belum teridentifikasi.

Operasi pencarian dan evakuasi masih berlangsung sembari menunggu hasil penyelidikan KNKT untuk mengungkap penyebab kecelakaan secara menyeluruh.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru