Loading
Prof Tjandra Yoga Aditama—Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Adjunct Professor Griffith University Australia. (Foto: Dok. Pribadi)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Presiden Probowo menambah alokasi dana riset dan inovasi perguruan tinggi hingga Rp4 triliun. Kebijakan ini disampaikan dalam pertemuan Presiden bersama sekitar 1.200 guru besar dan pimpinan universitas pada 15 Januari 2026, sebagaimana diungkapkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek).
Menanggapi hal tersebut, Prof Tjandra Yoga Aditama—Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Adjunct Professor Griffith University Australia—menilai peningkatan anggaran riset menjadi momentum penting, termasuk untuk memperkuat riset kesehatan yang berpengaruh langsung terhadap kualitas hidup masyarakat.
Menurut Prof Tjandra, penguatan riset kesehatan setidaknya perlu diarahkan pada lima area utama.
Pertama, riset harus mampu mengukur besaran masalah kesehatan sekaligus memetakan sebarannya.
Kedua, riset perlu memperdalam pemahaman tentang faktor penyebab suatu masalah kesehatan.
Baca juga:
Presiden Tambah Anggaran Riset Rp4 Triliun, Prof Tjandra: Riset Kesehatan Perlu Fokus di 5 Area IniKetiga, riset harus berorientasi pada penemuan solusi dan intervensi, baik untuk pencegahan, mitigasi, maupun pengobatan masalah kesehatan—baik pada tingkat individu maupun komunitas. Keempat, riset diperlukan untuk menemukan model implementasi terbaik, termasuk merumuskan bentuk kebijakan dan program kesehatan yang tepat diterapkan.
Kelima, riset kesehatan juga harus menilai dampak dari implementasi berbagai solusi kesehatan, sehingga efektivitas program dapat diukur secara jelas di berbagai tingkatan.
Selain lima area, Prof Tjandra menekankan pentingnya tiga pendekatan yang bisa diterapkan dalam riset kesehatan global dan disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia.Pendekatan pertama ialah kemampuan riset untuk mengantisipasi pergeseran ilmu pengetahuan, perkembangan teknologi, serta perubahan epidemiologi penyakit. Kedua, riset perlu disusun melalui agenda yang jelas, mulai dari pemetaan kesenjangan hingga penentuan prioritas riset sesuai kebutuhan negara.
Sementara pendekatan ketiga adalah memastikan proses riset dilakukan dengan jaminan mutu, sehingga hasil ilmiah yang dihasilkan memiliki tingkat keyakinan dan kredibilitas yang kuat.
Prof Tjandra menyampaikan, kombinasi lima area dan tiga pendekatan tersebut dapat menjadi rujukan untuk menyambut kebijakan Presiden terkait peningkatan dana riset, terutama agar penguatan riset kesehatan berjalan lebih terarah dan berdampak nyata bagi masyarakat.