Loading
Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas. (Antara)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, mengimbau umat Islam untuk menyikapi perbedaan penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah dengan kepala dingin dan penuh toleransi. Ia menegaskan, perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan.
“Perbedaan bukanlah bencana atau malapetaka, melainkan rahmat. Karena itu, tidak sepatutnya menjadi alasan untuk saling menyalahkan apalagi memecah belah umat,” ujar Anwar Abbas saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Menurutnya, sejarah Islam telah menunjukkan bahwa perbedaan pandangan adalah bagian dari dinamika intelektual yang sehat. Tradisi ini sudah berlangsung sejak masa para ulama terdahulu dan menjadi fondasi perkembangan ilmu fikih hingga saat ini.
Teladan Empat Imam Mazhab
Anwar mencontohkan bagaimana empat imam mazhab besar tetap saling menghormati meskipun memiliki perbedaan dalam metode istinbat hukum. Mereka adalah Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad ibn Idris al-Syafi'i, dan Ahmad ibn Hanbal.
Keempat ulama tersebut hidup dalam rentang waktu yang berdekatan dan bahkan memiliki hubungan guru-murid. Meski berbeda pendapat dalam berbagai persoalan fikih, mereka tetap menunjukkan adab dan rasa hormat satu sama lain.
Sebagai contoh, Imam Syafi’i dikenal membaca qunut saat shalat Subuh, sementara Imam Abu Hanifah tidak. Namun ketika Imam Syafi’i berziarah ke makam Abu Hanifah di Baghdad, ia tidak membaca qunut sebagai bentuk penghormatan.
“Mereka adalah ulama yang alim dan sangat berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta kemajuan agama Islam. Meski berbeda pendapat dalam banyak persoalan fikih, mereka tetap saling menghormati dan tidak memaksakan pandangannya,” kata Anwar.
Perbedaan Hisab dan Rukyat
Terkait perbedaan awal Ramadhan 1447 H, Anwar menjelaskan hal tersebut muncul dari penggunaan dua metode yang sama-sama memiliki dasar syar’i, yakni hisab dan rukyat. Perbedaan metode ini bukan hal baru dan telah lama menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam.
Ia pun mengajak umat Islam untuk mengedepankan sikap tasamuh (toleransi) serta menjaga ukhuwah Islamiyah agar persatuan tetap terjaga.
“Dengan semangat saling menghormati, umat Islam diharapkan mampu menjaga ketertiban sosial dan membangun persatuan yang kokoh di tengah keberagaman pandangan,” ujarnya.
Anwar berharap momentum Ramadhan justru menjadi sarana mempererat persaudaraan, bukan sebaliknya memunculkan perpecahan akibat perbedaan yang sejatinya bisa disikapi dengan bijak.