Loading
Jelajah Serangga Nocturnal Nara Kupu Jogja sukses digelar meski hujan mengguyur. Diikuti 200 peserta lintas usia, kegiatan ini menghadirkan edukasi alam malam yang seru dan bermakna. (Foto: Dok. NKJ)
SLEMAN, ARAHKITA.COM — Rintik hujan yang turun sejak sore hingga malam tak menjadi penghalang. Sebaliknya, suasana basah justru menambah kesan petualangan dalam kegiatan Jelajah Serangga Nocturnal yang digelar Nara Kupu Jogja berkolaborasi dengan Agenda Sekolah Alam. Sedikitnya 200 peserta dari berbagai usia ikut ambil bagian, mulai dari balita usia 2 tahun, pelajar, mahasiswa, hingga orang dewasa.
Berbeda dari pembelajaran konvensional, kegiatan ini mengajak peserta belajar langsung dari alam pada malam hari. Dengan berbekal senter, mereka menyusuri kawasan agroeduwisata untuk mengamati serangga, reptil, dan amfibi yang aktif setelah matahari terbenam. Setiap temuan menjadi pintu masuk untuk memahami peran penting makhluk hidup tersebut dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Pemilik Nara Kupu Jogja, Rayhan Christian Siego, menyebut kegiatan ini sebagai ruang belajar lintas usia yang efektif sekaligus menyenangkan. Menurutnya, peserta tidak hanya melihat spesimen di habitat aslinya, tetapi juga diajak menumbuhkan empati terhadap makhluk hidup lain serta memahami keterkaitan manusia dengan alam.
Senada, Marketing dan Event Manager Nara Kupu Jogja, Tomy Tri Ivananto atau akrab disapa Joyobadik, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan menjadi kunci utama keberlangsungan ekosistem. Ia menjelaskan, kondisi alam di kawasan Nara Kupu Jogja yang masih terjaga terlihat dari ditemukannya sejumlah spesies serangga yang kini semakin jarang dijumpai di area permukiman.
Salah satu temuan yang menarik perhatian adalah capung jarum Ischnura senegalensis. Serangga ini dikenal sebagai bioindikator kualitas air yang baik. Kehadirannya menjadi penanda bahwa ekosistem perairan di kawasan Nara Kupu Jogja masih tergolong bersih dan sehat.
Tak hanya serangga, peserta juga berkesempatan mengamati berbagai reptil dan amfibi, seperti beragam jenis katak, kadal, hingga ular yang hidup alami di area tersebut. Seluruh proses observasi dilakukan dengan pendampingan edukatif, sehingga peserta tidak sekadar melihat, tetapi juga memahami karakter, habitat, dan peran ekologis setiap spesies.
Kegiatan ini semakin kaya berkat dukungan kolaborasi akademik bersama Kelompok Studi Entomologi dan Kelompok Studi Herpetologi Biologi Universitas Gadjah Mada. Kehadiran para mahasiswa dan pegiat fauna membantu menjembatani pengetahuan ilmiah dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat umum.
Meski hujan turun hampir sepanjang acara, semangat peserta tetap menyala. Anak-anak tampak antusias menyorotkan senter kecil mereka, sementara para orang tua dan mahasiswa larut dalam diskusi hangat tentang spesies yang ditemui. Kebersamaan dan rasa ingin tahu menjadi energi utama yang menghidupkan malam itu.
Ke depan, Nara Kupu Jogja berharap kegiatan eksplorasi serupa dapat terus digelar secara berkala. Tak hanya sebagai sarana belajar dan penelitian, tetapi juga sebagai upaya menumbuhkan kecintaan terhadap hewan dan alam sejak dini.
Melalui Jelajah Serangga Nocturnal, Nara Kupu Jogja kembali menegaskan bahwa belajar tak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Di balik gelapnya malam dan rintik hujan, alam justru membuka ruang pengetahuan yang luas—mengajak manusia untuk kembali mengenal, menghargai, dan menjaga kehidupan yang hidup berdampingan dengan kita.