Loading
Polusi udara Jakarta Foto Greenpeace
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kualitas udara di Jakarta pada Selasa (31/3/2026) pagi terpantau berada pada kategori tidak sehat. Data dari platform IQAir menunjukkan Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai angka 127 pada pukul 06.30 WIB.
Dengan angka tersebut, Jakarta menempati peringkat ke-10 sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada pagi hari. Konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat sebesar 46 mikrogram per meter kubik, yang berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan manusia, terutama kelompok rentan.
Kondisi ini diduga berkaitan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat setelah libur panjang Lebaran 2026, yang diikuti lonjakan volume kendaraan di berbagai ruas jalan utama.
Masyarakat pun diimbau untuk lebih waspada saat beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker menjadi salah satu langkah sederhana untuk mengurangi paparan polusi udara.
“Dalam kondisi udara tidak sehat, masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas luar ruangan dan menggunakan pelindung seperti masker,” demikian imbauan umum dari pemantau kualitas udara.
Secara umum, kategori kualitas udara dibagi menjadi beberapa tingkat. Kategori baik berada pada rentang PM2.5 sebesar 0–50, yang tidak berdampak pada kesehatan. Sementara kategori sedang berada pada rentang 51–100 dan mulai berdampak pada tumbuhan sensitif.
Adapun kategori sangat tidak sehat berada pada rentang 200–299, sedangkan kategori berbahaya berada di atas 300 yang dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan masyarakat secara luas.
Dalam peringkat global, kota dengan kualitas udara terburuk ditempati oleh Delhi dengan AQI 198, disusul Chiang Mai (190), Kinshasa (177), Kathmandu (166), dan Tashkent (163).
Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta terus memperkuat sistem pemantauan kualitas udara. Saat ini, terdapat 31 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang tersebar di berbagai wilayah.
Data dari SPKU tersebut terintegrasi dengan sejumlah lembaga, seperti BMKG, World Resources Institute Indonesia, dan Vital Strategies.
Di sisi lain, peningkatan polusi udara juga sejalan dengan kembali padatnya arus lalu lintas di Jakarta. Salah satu titik yang mengalami kepadatan adalah kawasan Jalan Basuki Rachmat, Jatinegara, Jakarta Timur, yang menjadi jalur utama menuju pusat bisnis seperti Tebet dan Mega Kuningan.
Lonjakan volume kendaraan dari wilayah penyangga seperti Bekasi turut memperparah kemacetan, terutama pada jam sibuk pagi hari.
Dengan kondisi ini, masyarakat diharapkan lebih memperhatikan kesehatan serta mempertimbangkan penggunaan transportasi umum guna membantu mengurangi tingkat polusi udara di ibu kota.