Puncak perayaan Frans Seda Centennial Celebration: Empowering the Next Generation, yang digelar di Kampus Semanggi, Unika Atma Jaya, pada Jumat (9/10/2026). (Foto: Dok. Yayasan Atma Jaya)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Bagaimana nilai-nilai seorang tokoh bangsa tetap hidup di tengah perubahan zaman? Bagi Frans Seda, jawabannya tidak berhenti pada catatan sejarah, tetapi terletak pada semangat belajar, integritas, pendidikan, dan pengabdian yang dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.
Pesan itulah yang mengemuka dalam peringatan 100 tahun kelahiran Frans Seda yang digelar Frans Seda Foundation bersama Yayasan Atma Jaya dan Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya. Melalui rangkaian kegiatan bertema Empowering the Next Generation, ketiga lembaga tersebut mengajak generasi muda mengenal lebih dekat pemikiran dan keteladanan Frans Seda sekaligus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian peringatan ini berlangsung sejak September 2026, dengan beragam kegiatan yang memadukan sejarah, pendidikan, diskusi, seni, dan refleksi.
Managing Director Frans Seda Foundation, Stefanus Ginting, mengatakan bahwa nilai-nilai yang diwariskan Frans Seda tetap relevan hingga satu abad setelah kelahirannya. Semangat untuk terus belajar, memimpin dengan integritas, mengabdi kepada sesama, serta berkarya bagi Tuhan dan tanah air dinilai penting untuk diteruskan oleh generasi muda.
Menurutnya, peringatan satu abad Frans Seda tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial atau nostalgia terhadap masa lalu. Inspirasi dari perjalanan hidup seorang tokoh perlu diterjemahkan menjadi karya dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pandangan senada disampaikan Rektor Unika Atma Jaya, Yuda Turana. Ia mengajak masyarakat menjadikan Frans Seda sebagai teladan dalam membangun semangat pengabdian kepada Tuhan dan negara.
Bagi generasi muda, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui pilihan dan tindakan sehari-hari, mulai dari kesungguhan menempuh pendidikan, kejujuran dalam bekerja, hingga kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Mengenalkan Frans Seda dengan Cara yang Dekat dengan Anak Muda
Salah satu tantangan dalam memperkenalkan tokoh sejarah kepada generasi muda adalah menjadikan kisah masa lalu terasa relevan dengan kehidupan mereka saat ini.
Karena itu, peringatan 100 tahun Frans Seda tidak hanya menghadirkan diskusi dan dokumentasi sejarah. Berbagai kegiatan juga dikemas melalui pendekatan kreatif yang dekat dengan keseharian generasi muda, termasuk pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), musik, dan pertunjukan seni.
Penampilan sasando turut mewarnai rangkaian kegiatan tersebut. Selain itu, ada pertunjukan teater bertajuk Untuk Tuhan dan Tanah Air (UTTA) serta drama musikal yang melibatkan mahasiswa, alumni, staf Atma Jaya, dan sahabat Atma.
Melalui pertunjukan itu, perjalanan hidup Frans Seda diperkenalkan kepada penonton, mulai dari masa kecil hingga kiprahnya dalam pemerintahan. Pendekatan seni diharapkan dapat membantu generasi muda memahami sosok Frans Seda bukan semata-mata sebagai nama dalam buku sejarah, melainkan sebagai pribadi dengan perjalanan hidup, pemikiran, dan nilai perjuangan yang dapat dipelajari.
Kreativitas anak muda juga mendapat ruang melalui lomba cerita pendek, ilustrasi, dan video reels. Beragam format tersebut membuka kesempatan bagi peserta untuk mengolah inspirasi dari kehidupan Frans Seda menjadi karya sesuai dengan minat dan bahasa generasi mereka.
Menelusuri Jejak Frans Seda Lewat Pameran Sejarah
Sebelum puncak perayaan, Unika Atma Jaya menjadi tempat penyelenggaraan pameran Jejak Sejarah Frans Seda yang dibuka pada 2 September 2026.
Pameran yang berlangsung di ATMACultura Exhibition Hall, Kampus Semanggi, Jakarta, ini merupakan hasil kolaborasi Frans Seda Foundation, Yayasan Atma Jaya, dan Unika Atma Jaya.
Materi pameran mengajak pengunjung menelusuri berbagai fase kehidupan Frans Seda. Kisahnya disusun mulai dari pembentukan karakter dan perjalanan pendidikan, pengabdian sebagai birokrat dan politikus, hingga warisan pemikiran serta nilai-nilai yang masih dapat dipelajari hingga kini.
Pengalaman pengunjung juga diperkaya dengan mission book interaktif. Melalui panduan tersebut, pengunjung diajak menemukan inspirasi dari koleksi buku Frans Seda, memecahkan teka-teki mengenai perjalanan hidupnya, serta menuliskan refleksi pribadi setelah menyusuri pameran.
Dengan pendekatan ini, pengunjung tidak hanya menerima informasi, tetapi juga didorong untuk berpikir dan menemukan makna dari perjalanan hidup tokoh yang diperkenalkan.
Pemilihan Unika Atma Jaya sebagai lokasi pameran memiliki kaitan erat dengan sejarah Frans Seda sendiri. Ia merupakan salah satu tokoh yang berperan dalam pendirian universitas tersebut bersama sejumlah rekan seperjuangannya.
Dengan demikian, pengenalan warisan Frans Seda melalui pameran juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali hubungan antara gagasan, pendidikan, dan upaya membangun sumber daya manusia Indonesia.
Menggali Pemikiran Frans Seda tentang Ekonomi
Warisan Frans Seda juga dibahas melalui forum akademik yang menyoroti pemikirannya dalam menghadapi persoalan ekonomi.
Pada 1 Oktober 2026, Atma Jaya Institute of Public Policy bersama Frans Seda Foundation menyelenggarakan Frans Seda Memorial Lecture 2026 dengan tema “Kebijakan Ekonomi di Masa Sulit: Pelajaran dari Krisis, Geopolitik, dan Tekanan Struktural”.
Forum tersebut menghadirkan Menteri Keuangan Suahasil Nazara dan Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu. Diskusi ini menjadi ruang untuk menghubungkan pengalaman kebijakan ekonomi pada masa lalu dengan tantangan Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Salah satu pelajaran yang kembali disoroti adalah pentingnya kredibilitas dan disiplin fiskal dalam pengelolaan keuangan negara.
Dalam forum tersebut, Suahasil Nazara menekankan bahwa pengalaman Frans Seda ketika menjabat sebagai Menteri Keuangan pada periode 1966–1968 memperlihatkan pentingnya menjaga kepercayaan serta menyesuaikan belanja negara dengan kemampuan penerimaan pemerintah.
Pembahasan ini menunjukkan bahwa warisan seorang tokoh tidak hanya dapat dipahami melalui perjalanan kariernya, tetapi juga melalui gagasan dan keputusan yang pernah diambilnya dalam menghadapi situasi sulit.
Bagi mahasiswa dan generasi muda yang tertarik pada ekonomi, pemerintahan, maupun kebijakan publik, kisah tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan antara kepemimpinan, integritas, dan tanggung jawab dalam mengelola kepentingan masyarakat.
Dari Keteladanan Menjadi Karya Nyata
Frans Seda lahir di Maumere, Nusa Tenggara Timur, pada 4 Oktober 1926. Sepanjang perjalanan hidupnya, ia dikenal sebagai negarawan, ekonom, politikus, diplomat, dan tokoh pendidikan.
Pengabdiannya mencakup berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan pengembangan pendidikan. Kiprahnya sebagai salah satu pendiri Unika Atma Jaya juga memperlihatkan perhatian terhadap pentingnya pendidikan dalam mempersiapkan manusia yang mampu berkontribusi bagi bangsa.
Namun, mengenang seorang tokoh tidak cukup hanya dengan mengingat jabatan, pencapaian, atau peristiwa penting dalam hidupnya. Nilai yang mendasari perjalanan tersebut juga perlu dipahami dan diteruskan.
Dalam konteks generasi muda, semangat Frans Seda dapat diterjemahkan melalui keberanian untuk terus belajar, kesediaan mengambil tanggung jawab, kejujuran dalam menjalankan peran, serta kepedulian terhadap persoalan di sekitar.
Inilah pesan utama yang ingin disampaikan melalui peringatan satu abad Frans Seda. Sejarah tidak hanya menjadi kisah tentang apa yang telah dilakukan generasi terdahulu, tetapi juga sumber pembelajaran untuk menentukan langkah berikutnya.
Melalui kolaborasi Frans Seda Foundation, Yayasan Atma Jaya, dan Unika Atma Jaya, peringatan ini diharapkan menjadi momentum bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat sosok Frans Seda dan meneruskan semangat pengabdiannya melalui karya yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.